Melalui Inovasi, Bawang Merah miliki Potensi Bisnis yang Menjanjikan

praktek pembuatan Kisela sebagai pestisida nabati

Mangupura (Bisnis Bali) –
Melalu inovasi yang dilakukan ternyata bawang merah tak hanya miliki nilai bisnis yang menjanjikan dijual sebagai komoditi pertanian, namun salah satu bumbu-bumbuan ini juga memiliki potensi yang tak kalah menjanjikan dijual dengan dikemas sebagai produk camilan. Itu sekaligus jadi solusi dalam menyikapi di saat harga bawah merah ini turun.
Demikian terungkap dalam kegiatan Temu Teknis Inovasi Pertanian, khususnya tentang bawang merah digelar oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Abiansemal, Badung, Rabu ( 10/4). Kegiatan temu teknis dibuka oleh Kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa didampingi oleh kordinator penyuluh BPTP Bali Dr. I Wayan Alit Artha Wiguna, menghadirkan pembicara peneliti BPTP Nym., Ngurah Arya, SP., MM., tentang budi daya bawang merah ramah lingkungan, dan peneliti BPTP Dr. Ni Wayan Trisnawati menyangkut pengolahan bawang merah menjadi crispy.
Rai Yasa dalam kesempatan tersebut mengungkapkan, BPTP Bali merupakan institusi Balitbangtan, Kementerian Pertanian yang ada di daerah. Salah satu tugas BPTP adalah menghasilkan teknologi spesifik lokasi oleh para peneliti. Selanjutnya teknologi tersebut harus didiseminasikan melalaui berbagai cara atau metode. Salah satunya, saat ini melalui Temu Teknis Inovasi Pertanian yang diikuti 30 orang peserta. Terdiri, selain dihadiri oleh penyuluh pertanian di tingkat provinsi, juga dihadiri oleh penyuluh pertanian kabupaten/kota yang menjadi wilayah pengembangan bawang merah di Bali pada 2019.
“Kegiatan ini bertujuan untuk mendiseminasikan paket teknologi bawang merah kepada para penyuluh pertanian, dan selanjutnya diimplementasikan oleh para petani,” tuturnya.
Jelas Rai Yasa, bahwa bawang merah merupakan salah komoditas pertanian yang strategis, karena dibutuhkan dan dikomsumsi oleh hampir seluruh masyarakat. Sayangnya, bawang merah sangat rentan dengan serangan hama penyakit, sehingga dalam sistem budi daya umumnya petani menggunakan bahan kimia sintetis yang cenderung berlebihan. Akibatnya, berdampak kurang bagi kesehatan manusia sebagai konsumen, seperti menyebabkan gondok, rendahnya daya pikir atau intelegensia seseorang.
Sebab itu, katanya pada temu teknis ini, diperkenalkan budi daya bawah merah ramah lingkungan dengan mengadopsi penggunaan biopestida nabati atau disebut Kisela. Selain itu tambahnya, terkadang harga bawang merah cukup rendah, sehingga sering menyebabkan kerugian bagi petani produsen. Sebab itu, BPTP Bali mengembangkan teknologi pengolahan bawang merah menjadi bawang merah goreng crispy.
“Diolah menjadi crispy akan membuat bawah merah ini selain menjadi produk pangan olahan juga akan memberikan nilai tambah ekonomi yang baik, serta memiliki daya simpan yang lebih lama,” tandasnya.*man.