Harga Manggis di Tingkat Petani Terjun Bebas

Tabanan (Bisnis Bali) –
Sejumlah petani manggis di Tabanan resah. Betapa tidak, harga salah satu produk hortikultura yang sudah mampu menembus pasar ekspor tersebut tengah terjun bebas alias turun drastis saat ini.
Salah seorang petani manggis Komang Suarsana, di Banjar Sasahan, Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Minggu (7/4) mengungkapkan, saat ini harga manggis di tingkat petani tengah turun drastis. Itu tercermin dari harga untuk manggis yang masuk dalam kualitas ekspor turun dengan berada di level Rp 8.000 per kg hingga Rp 11.000 per kg saat ini, sedangkan kualitas manggis untuk pasar lokal berada dikisaran Rp 5.000 per kg-Rp 7.000 per kg.
Akuinya, kondisi harga manggis baik itu untuk pangsa pasar ekspor maupun manggis untuk pangsapasar lokal, sama-sama mengalami penurunan yang cukup drastis saat ini. Sebab, paparnya sebelumnya untuk manggis dengan kualuitas penjualan ekspor, harganya bisa mencapai Rp 30.000 ribu per kg pada Februari 2019 lalu.
“Sejak masuk April 2019 harga manggis di tingkat petani ini rata-rata mulai mengalami penurunan dan terjadi hingga saat ini,” tuturnya.
Jelas Suarsana, penyebab turunya harga jual manggis di tingkat petani ini karena pada waktu yang sama, terjadi panen manggis di Thailand yang merupakan Negara pemasok ekspor untuk Tiongkok. Akibatnya, masuknya produksi manggis dari Thailand tersebut membuat pasokan manggis dari Indonesia, termasuk Bali menjadi berkurang masuk Tiongkok karena kalah saing, sehingga jumlah produk manggis di dalam negeri menjadi berlimpah karena adanya musim panen saat ini.
Menyikapi itu, petani akhirnya mau tidak mau terpaksa mengobral hasil produksi manggis sekarang ini. Akuinya, kualitas manggis yang biasanya masuk untuk mengisi kuota ekspor, sekarang ini terpaksa turun kelas dengan masuk kepasar lokal.
“Saat ini salah satu solusi di petani adalah melempar ke pasar lokal. Terpenting bagi saya hasil produksi atau buah manggis ini ada yang beli. Itu saja, saya sudah bersukur,” kilahnya.
Di sisi lain lanjutnya, apa bila manggis tersebut dipaksakan untuk tetap masuk ke pasar ekspor, maka dengan nilai jual yang tidak menjanjikan saat ini, ditambah dengan biaya distribusi untuk ekspor yang juga tidak murah, maka akan kurang menguntungkan. Itu pula yang akhirnya juga membuat sejumlah perusahaan ekspor manggis yang ada di Pupuan, memilih menutup sementara usaha mereka.
“Sebelumnya, saat harga manggis masih mahal, jumlah eksportir manggis di Pupuan mencapai belasan. Kini seiring dengan anjloknya harga, jumlah eksportir ini hanya tinggal empat yang masih oprasional dan itu pun serapannya hanya mencapai 300 keranjang per eksportir per hari. Itu sesuai kuota yang dijatah,” tandasnya.
Selain itu, upaya lain guna menopang harga jual manggis agar tidak anjlok lebih dalam lagi, maka beberapa hasil produk manggis ada yang dilempar untuk antarpulau. Sayangnya, untuk perdagangan antarpulau ini juga tidak banyak membantu, karena untuk daerah lain seperti Jawa Barat, dan Banyuwangi juga sedang memasuki musim panen manggis, sehingga harga jual manggis produksi Pupuan tidak banyak selisih harga untuk perdagangan antarpulau saat ini.
Sementara itu, paparnya saat ini rata-rata produksi manggis bisa mencapai 10 ton per hari, belum lagi di tambah dengan produksi manggis ditingkat pengepul yang jumlahnya ada 15, sedangkan masing-masing pengepul bisa berproduksi hingga 2 ton per hari.
Hal sama juga diungkapkan, Ketut Alit Dwiyasa, petani manggis Desa Belatungan, Pupuan. Kata dia, saat ini merupakan masuk musim panen untuk tanaman manggis. Akuinya, panen saat ini kondisi buah manggis lebih baik daripada Desember lalu. Sebab, pertumbuhan buah didukung oleh cuaca yang diselingi oleh hujan dan tidak panas terus menerus.
“Pada panen Desember lalu cuacanya panas, sehingga banyak buah yang kualitasnya turun dan tidak memenuhi syarat ekspor,” ujarnya.
Sayangnya, seiring dengan membaiknya kualitas hasil pada musim panen saat ini, tidak dibarengi dengan bagusnya harga jual untuk buah kualitas super. Sebab itu harapannya, pemerintah bisa membantu menyikapi masalah harga buah manggis ini, mengingat petani manggis sudah berusaha dalam hal pengelolaan kebun sesuai SOP, namun sayang ketika panen harganya kurang menguntungkan.*man