Bali masih dipandang sebagai daerah yang potensial untuk berinvestasi khususnya di segmen ritel. Menjadi daerah tujuan pariwisata dunia serta kondisi perekonomian Bali yang cenderung terus meningkat setiap tahun dijadikan pertimbangan oleh para pebisnis ritel untuk menanamkan investasinya di Bali, khususnya di dua daerah emas yaitu Denpasar dan Badung. Alhasil, bisnis ritel atau pusat belanja (mal) terus bertumbuh di Bali. Apa yang harus diperhatikan?


BARU-BARU ini, sebuah pusat belanja (mal) yang cukup besar kembali dibuka di Bali, tepatnya Kota Denpasar. Sudah tentu dengan dibukanya mal baru tersebut otomatis menambah daftar mal yang ada dan beroperasi di Bali. Ketua DPD Bali Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Gita Sinarwulan mengatakan, dengan bertambahnya satu mal baru, sampai saat ini sudah ada 14 pusat belanja/mal di Bali. Gita justru memberikan apresiasi dengan dibukanya mal baru karena bisa menambah variasi pusat belanja di Bali. Tak hanya itu, dengan adanya mal baru akan memberikan alternatif bagi masyarakat dan bahkan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang kebetulan berkunjung ke Bali. “Saya melihat positif saja, bisa menambah daya tarik bagi turis, apalagi Bali sebagai daerah wisata dunia dan shopping menjadi salah satu kegiatan para turis selama berada di Bali. Ini juga bukanlah suatu persaingan antarmal karena masing-masing sudah punya market sendiri,” ujar Gita.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita pada suatu kesempatan di Bali mengatakan, berdasarkan data BPS 2018 kontribusi para peritel baik yang stand alone maupun yang berada di pusat perbelanjaan atau mal telah ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sisi kegiatan perdagangan dan konsumsi. Sektor perdagangan memberikan kontribusi yang cukup besar, yakni 12,97 persen dari total PDB. Selain menjadi penyumbang PDB terbesar ketiga setelah sektor industri dan pertanian, sektor perdagangan juga menyerap tenaga kerja sebesar 23,55 juta orang atau 18,53 persen dari jumlah pekerja yang jumlahnya mencapai 127,07 juta orang. “Pusat perbelanjaan masih menjadi bisnis menjanjikan di Indonesia. Sampai tahun 2020 mendatang diprediksi terdapat 12 pusat perbelanjaan baru dengan luas total sekitar 600 ribu meter persegi. Dari jumlah tersebut, sekitar 38 persen sedang dibangun,” ujar Enggartiasto Lukita.

Akademisi Universitas Warmadewa Denpasar, I Made Artawan, S.E., M.M. mengungkapkan para investor atau pengusaha sudah tentu mempunyai pertimbangan matang dalam memilih daerah untuk berinvestasi, seperti kondisi daerah, pendapatan asli daerah (PAD) serta kesejahteraan masyarakatnya. Bali termasuk incaran bagi para investor karena memenuhi kriteria tersebut. Maka tak heran, bisnis ritel khususnya pusat belanja/mal terus bertumbuh.

Mengutip data BPS, perekonomian Bali tahun 2018 yang diukur berdasarkan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat  Rp234,43 triliun, sementara PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp154,15 triliun. Dengan proyeksi jumlah penduduk Bali 4,29 juta jiwa, PDRB per kapita ADHB mencapai Rp54,62 juta. Ekonomi Bali tahun 2018 tercatat tumbuh 6,35 persen, meningkat dibandingkan tahun 2017 yang tercatat 5,57 persen.

Lalu apa dampaknya bagi Bali? Pria kelahiran Bongkasa ini mengungkapkan, secara positif pendapatan daerah, dalam hal ini Denpasar akan meningkat dari perolehan pajak. “Orang yang datang ke mal termasuk golongan ekonomi menengah ke atas. Mereka minimal menghabiskan uang Rp100 ribu untuk biaya transportasi, makan, parkir dan belanja. Kalau misal mereka datang 5 orang berarti sudah mengeluarkan uang Rp500 ribu. Bayangkan itu, kali sekian orang. Makin tinggi pendapatan mal, makin tinggi pula pajak yang dibayarkan ke daerah,” ungkap Artawan yang juga Kepala Biro Administrasi Perencanaan Pengembangan Sistem Informasi & Komunikasi (BAPPSIK) Universitas Warmadewa ini.

Tak hanya itu, keberadaan mal baru otomatis membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal Bali. Mall tentu membutuhkan banyak tenaga kerja untuk mengisi berbagai posisi. Dengan demikian pendapatan masyarakat akan meningkat sehingga bisa memiliki tabungan dan bahkan investasi.

Namun di balik itu, ada pula dampak negatif yang dihasilkan. Misalnya, adanya mal secara tak langsung menimbulkan kemacetan di jalur tersebut akibat meningkatnya mobilitas masyarakat yang ingin ke mal. Tetapi hal itu tak perlu dikhawatirkan karena di era revolusi industri 4.0 saat ini atau disebut era digital yang serbacepat, semuanya bisa dilakukan secara online. “Perilaku masyarakat pun berubah dan ingin mendapat pelayanan cepat. Transportasi bisa dipesan secara online sehingga akan mengurangi kemacetan. Ini juga menjadi tantangan bagi pemilik mal untuk mengemas diri, menyesuikan era RI 4.0 agar bisa bersaing. Beberapa konsumen juga ingin memesan barang secara online. Kalau mal tidak mengubah diri untuk ikut terjun ke pelayanan online maka akan kalah saing,” tegasnya.

Artawan melihat di masa mendatang masih ada peluang pertumbuhan pusat belanja (mal) di wilayah Bali. Namun ia berharap para pengusaha harus memperhatikan masyarakat lokal dan sekitar dengan memberikan peluang kerja guna membantu peningkatan perekonomian masyarakat dan daerah. *dar/editor rahadi