BENDUNGAN - Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa menghadiri ground breaking pembangunan Bendungan Sidan di kawasan Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Badung Kamis (4/4).

Mangupura (Bisnis Bali) – Pembangunan bendungan Sidan yang dicanangkan pemerintah pusat didukung oleh Pemerintah Kabupaten Badung. Diharapkan, bendungan yang mengambil lokasi perbatasan Badung, Bangli, dan Gianyar ini dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat terutama persoalan kekurangan pasokan air bersih saat musim kemarau.

Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa memberikan apresiasi atas pembangunan bendungan yang telah dirintis sejak 2018 tersebut. “Kami selaku masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Badung menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kami kepada pemerintah pusat, khususnya Bapak Presiden Joko Widodo yang telah benar-benar melaksanakan visi-misi pembangunannya. Salah satunya pembangunan Bendungan Sidan yang titiknya menyentuh Kabupaten Badung, Gianyar, dan Bangli yang dijadikan salah satu program strategis nasional pada 2018,” ungkapnya di sela-sela kegiatan ground breaking Pembangunan Bendungan Sidan di kawasan Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Badung oleh Balai Wilayah Sungai Bali-Penida, Kamis (4/4).

Dengan dibangunnya Bendungan Sidan, menurutnya, bisa menjawab permasalahan ketersediaan air baku di Provinsi Bali, termasuk Kabupaten Badung. Bali masih kekurangan sumber air baku yang bisa diolah menjadi air bersih. “Khusus di Kabupaten Badung, kami juga kekurangan 2.000 liter per detik. Di Badung Selatan saja kami kurang sekitar 890 liter per detik,” ujarnya dalam kegiatan yang dihadiri Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Hari Suprayogi, Gubernur Bali Wayan Koster, Kepala Balai Wilayah Sungai Bali-Penida Airlangga Mardjono, Pemkab Bangli, dan Pemkab Gianyar itu.

Jadi dengan dibangunnya Bendungan Sidan, kekurangan air bisa ditanggulangi, meski tak seluruhnya. Kata dia, bendungan yang memanfaatkan aliran Sungai Ayung itu nantinya bisa menghasilkan air baku sekitar 1.750 liter per detik. Sementara secara prioritas yang memanfaatkan adalah empat kabupaten, yakni Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. “Setidak-tidaknya, dengan ini, kami bisa menanggulangi permasalahan air. Di Bali, khususnya Badung adalah daerah pariwisata yang saat ini kami belum mampu mencukupi ketersediaan air bersih secara penuh 24 jam. Kami baru mampu 12-14 jam,” papar Wabup Suiasa.

Pihaknya juga berharap pemerintah pusat dan Pemprov Bali kembali melakukan kajian guna mencari tempat-tempat yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan air bersih. “Kami yakin ke depan permasalahan air ini bisa teratasi. Melalui prinsip pembangunan Nangun Sat Kertih Loka Bali oleh Pemprov dan Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana oleh kita di Badung yang disinergikan, itu bisa kita atasi bersama,” tegasnya.

Wabup Suiasa juga berharap pembangunan Bendungan Sidan berjalan lancar, tanpa hambatan. Dengan demikian, bisa segera rampung dan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.

Untuk diketahui, Bendungan Sidan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah pusat melalui APBN, di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Proyek yang berlangsung sejak 16 Oktober 2018 ini ditarget rampung pada 2021 mendatang dengan pengerjaan selama 1.173 hari kalender. Nilai kontrak konstruksi bendungan berkapasitas 3,8 juta meter kubik itu mencapai Rp 786.332.895.000 dan nilai kontrak supervisi Rp 43.297.500.000. Selaku penyedia jasa konstruksi, Konsorsium PT Brantas Abipraya (persero)-PT Universal Suryaprima. Sementara penyedia jasa konsultasi PT Teknika Cipta Konsultan (KSO), PT Bina Karya (persero), PT Global Prasindo Jaya, dan PT Antusias Raya. Di samping menyediakan air baku, bendungan tersebut juga nantinya memproduksi listrik 0,65 megawatt dan bisa dimanfaatkan sebagai destinasi wisata. *adv/editor rahadi