Mangupura (Bisnis Bali) – Bendungan Sidan sebagai solusi dari krisis air yang selama ini terjadi di Bali, Kamis (4/4) dilakukan ground breaking. Dengan penekanan tombol oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ir. Hari Suprayogi, Gubernur Bali Wayan Koster, dan Kepala Balai Wilayah Sungai Bali Penida, Airlangga Mardjono.

Bendungan Sidan ini merupakan respons pemerintah terhadap krisis air baku di kawasan Kota Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air serta Balai Wilayah Sungai Bali Penida akan membangun bendungan senilai Rp 829 miliar di Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Bendungan Sidan seluas 82,73 hektar yang mencakup wilayah Badung, Gianyar, dan Bangli.

Dalam sambutannya, Airlangga Mardjono mengatakan pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan di Bali menyebabkan kebutuhan air baku semakin bertambah. Meningkatnya kebutuhan air domestik berimbas pada kekurangan air bersih. Kapasitas air baku, khususnya di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan terangnya sebesar 4,27 meter kubik per detik. Kebutuhan air baku di tahun 2018 adalah 10,02 meter kubik per detik. “Kondisi ini menandakan kawasan Sarbagita mengalami defisit sebesar 5,75 meter kubik per detik sehingga membutuhkan sumber air baku baru,” ucap Airlangga.

Dalam rangka mengembangkan infrastruktur untuk penyediaan air baku dan konservasi sumber daya air di kawasan Sarbagita, maka dibangunlah Bendungan Sidan. Bendungan diproyeksikan setinggi 68 meter dengan kapasitas tampung sebesar 3,82 juta meter kubik. Bendungan Sidan diharapkan menyediakan air baku sebesar 1.570 liter per detik untuk daerah layanan Sarbagita. Bendungan tersebut disebut memiliki potensi pembangkit listrik sebesar 0,65 megawatt. Selain itu juga berpotensi sebagai daerah tujuan wisata dan konservasi sumber daya air.

“Luas tanah yang dibutuhkan untuk pembangunan ini seluas 82,73 hektar. Terdiri dari 168 bidang di lima desa, yaitu Belok Sidan (Badung), Buahan Kaja (Gianyar), Mengani, Bunutin, dan Pagehin (Bangli),” tandasnya. Pembangunan Bendungan Sidan imbuhnya dikerjakan oleh kontraktor PT Brantas Adipraya Persero bersama PT Universal Surya Prima KSO. Sementara konsultan supervisi proyek adalah KSO Konsultan PT Teknika Cipta Konsultan, PT Gunasarya Persero, PT Antusias Raya, dan PT Global Parasindo Raya. Total biaya pembangunan Bendungan Sidan senilai Rp 829 miliar dengan pelaksanaan pembangunan selama 4 tahun. Anggaran bersumber dari APBN Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air serta Balai Wilayah Sungai Bali Penida.

Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas realisasi Bendungan Sidan mulai, Kamis (4/4). Mengacu data Koster menyebut di Bali terdapat lima bendungan yang memiliki manfaat utama untuk irigasi, penyediaan air baku, serta pembangkit listrik tenaga air. Dalam rangka mendukung kedaulatan pangan orang nomor satu di Bali itu menyebut keberadaan bendungan sangat penting. “Pembangunan dan pengelolaan bendungan tentunya harus dilakukan secara bersinergi antara Kementerian PUPR, Provinsi Bali, serta pemerintah kabupaten/kota di Bali. Terutama dalam hal penyediaan lahan sehingga bendungan selesai sesuai rencana dan memberi manfaat maksimal bagi masyarakat,” ucapnya.

Gubernur mengatakan tengah menyusun master plan tentang pemanfaatan air, sehingga lebih terkelola dengan baik dan terintegrasi. Karena selama ini penanganannya secara parsial di masing-masing kabupaten/ kota. “Ini dimulai dengan memetakan seluruh sumber air yang ada di Bali. Master plan ini juga memetakan kebutuhan air, baik untuk domestik di masyarakat, maupun untuk kebutuhan pariwisata, industri jasa dan industri rumah tangga hingga masyarakat terpencil di seluruh Bali,” pungkasnya. *adv/editor rahadi