DIKLAT - Calon pramuwisata serius mengikuti proses diklat dan uji budaya Bali.

Denpasar (Bisnis Bali) – Pramuwisata merupakan pelaku pariwisata yang bersentuhan langsung dengan wisatawan saat penjemputan maupun kegiatan tour. Guna memastikan kualitas SDM pramuwisata, HPI memastikan calon pramuwisata wajib memiliki kemampuan bahasa dan melalui uji budaya Bali.

Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Bali, Nyoman Nuarta, Senin (1/4) mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan pramuwisata atau guide di Bali, DPD HPI Bali tersebut telah melakukan kegiatan rekrutmen pramuwisata umum yang ke-3. Proses rekrutmen tentu melalui proses pelatihan dan uji kompetensi guna memastikan pramuwisata memenuhi persyaratan kompeten.

Ia menjelaskan, sebenarnya kegiatan uji budaya dilaksanakan oleh pemerintah. Kegiatan uji budaya Bali sudah dilaksanakan sebanyak 2 kali.

Dipaparkannya, proses uji budaya tersebut memang terlihat sangat instan. Secara teknis, uji budaya tentu wajib melalui proses yang panjang.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk memastikan kualitas calon SDM pramuwisata, dalam kegiatan uji budaya Bali yang ke-3 di dahului proses diklat. “Kami mencoba mendiskusikan dengan Kadispar Bali sebelum uji budaya Bali agar didahului dengan proses diklat,” katanya.

Nuarta menegaskan, melalui proses diklat HPI mampu menjaring SDM pramuwisata berkualitas. Hal ini dikarenakan, melalui proses diklat HPI bisa mengetahui kemampuan bahasa asing yang akan dikuasai oleh calon pramuwisata.

Diklat ini merupakan proses pembelajaran di dalam kelas dan praktik selama seminggu. Dengan proses pembelajaran dan praktik di lapangan output sumber daya manusia pramuwisata akan lebih berkualitas.

Diklat pramuwisata HPI Bali ke-3 diikuti oleh 120 orang. Jumlah  peserta itu merupakan keputusan pemerintah  bukan keputusan DPD HPI Bali.

Nuarta menambahkan, dari 120 orang total peserta, peserta calon pramuwisata berbahasa Ingris paling banyak 58 orang. Peserta calon pramuwisata bahasa Indonesia 15 orang, bahasa Spanyol 15 orang peserta, bahasa Mandarin 14 orang peserta, bahasa Prancis 14 orang peserta, bahasa Jerman 3 orang peserta dan bahasa Jepang 2 orang peserta. “Yang nihil peserta adalah peserta bahasa Italia dan peserta bahasa Belanda,” katanya. *kup/editor rahadi