Denpasar Inflasi 0,24 persen, Ini yang Menyebabkan

I Gede Nyoman Subadri., SE

Denpasar (Bisnis Bali) –
Maret 2019 Denpasar tercatat mengalami inflasi 0,24 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK 2012=100) mencapai 132,05. Inflasi di ibu kota Provinsi Bali ini salah satunya disumbang oleh kenaikan harga pada kelompok bahan makanan yang memberi andil dominan dibandingkan empat kelompok lainnya pada periode tersebut.
Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Bali, I Gede Nyoman Subadri., SE di Denpasar, Senin (1/4) kemarin mengungkapkan, tingkat inflasi tahun kalender Maret 2019 tercatat 0,42 persen. Di sisi lain, tingkat inflasi tahun ke tahun (Maret 2019 terhadap Maret 2018 atau YoY) tercatat mencapai 2,05 persen.
Terangnya, Maret 2019 empat kelompok pengeluaran tercatat mengalami inflasi (m to m). Yakni, kelompok bahan makanan mencapai 0,73 persen yang sekaligus menjadi penyumbang dominan. Selanjutnya, inflasi juga disumbang oleh kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan mencapai 0,34 persen, kelompok kesehatan 0,29 persen, serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,27 persen.
“Periode yang sama hanya, tiga kelompok tercatat mengalami deflasi. Yakni, kelompok sandang 0,13 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,09 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mencapai 0,08 persen,” paparnya.
Jelas Subadri, komoditas yang tercatat memberikan andil atau sumbangan inflasi antara lain, tarip angkutan udara, ikan tongkol pindang, nangka muda, bawang merah, bawang putih, apel, bayam, dan emas perhiasan. Sementara komoditas yang tercatat mengalami penurunan harga atau mengalami deflasi antara lain, daging ayam ras, jeruk, bensin non subsidi, dan bahan bakar rumahtangga.
Sambungnya, khusus di kelompok bahan makanan tercatat didorong oleh inflasi pada delapan subkelompok pengeluaran. Diantaranya, subkelompok ikan diawetkan mencapai 6,68 persen, subkelompok sayur-sayuran 3,58 persen, subkelompok bahan makanan lainnya 3,55 persen, dan subkelompok bumbu-bumbuan 2,67 persen.
“Komoditas yang tercatat memberikan sumbangan inflasi terbesar pada kelompok ini diantaranya, ikan tongkol pindang 0,0475 persen, nangka muda 0,0297 persen, bawang merah 0,0279 persen dan bawang putih 0,0224 persen,” paparnya.
Sementara itu, dari 82 kota IHK tercatat 51 kota mengalami inflasi dan 31 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Ambon (Maluku) mencapai 0,86 persen sedangkan inflasi terendah tercatat di Bekasi (Jawa Barat) dan Tangerang (Banten) masing-masing 0,01 persen. Deflasi terdalam tercatat di Tual (Maluku) 3,03 persen dan terdangkal di Palembang (Sumatra Selatan), Batam (Kepulauan Riau), dan Sampit (Kalimantan Tengah) masing-masing 0,01 persen.
“Jika diurutkan dari inflasi tertinggi, maka Denpasar menempati urutan ke-26 dari 51 kota yang mengalami inflasi,” pungkasnya.*man