Sektor Usaha Perdagangan Mendominasi Serapan Kredit Perbankan

Tabanan (Bisnis Bali) –
Mendekati triwulan pertama 2019, sektor perdagangan masih memberi andil cukup besar pada penyaluran kredit (di luar kredit program) sejumlah perbankan di Tabanan. Betapa tidak, sektor perdagangan ini menyumbang hingga 50 persen dari penyaluran kredit yang ada hingga saat ini.
Kepala Bank BRI Cabang Tabanan, Anditya Mahendra Krishna, di Tabanan, Jumat (29/3) mengungkapkan, serapan kredit ke sektor perdagangan ini cukup kencang saat ini. Imbuhnya, sektor perdagangan meliputi semua segmen, mulai perdagangan sembako hingga perdagangan kendaraan dengan rata-rata plafon mencapai Rp 3,5 miliar.
“Di sisi lain untuk serapan kredit ke sektor properti khususnya dari pengembang, tahun ini masih sepi atau tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Terkecuali, untuk rumah second, serapan kredit untuk transaksi tersebut masih tumbuh saat ini,” tuturnya.
Jelas Mahendra, secara umum dilihat dari pertumbuhan penyaluran kredit (di luar kredit progam) untuk di Bank BRI Cabang Tabanan cukup tinggi. Itu terbukti dari posisi loan to deposit ratio (LDR) mencapai 150 persen posisi akhir Februari 2019. Artinya, lebih banyak menyalurkan kredit, dibandingkan dengan menghimpun dana dari masyarakat.
“Bercermin dari itu, sebenarnya tahun politik bagi pelaku atau orang yang benar-benar pelaku bisnis, tidak ada pengaruhnya. Sebab, usaha mereka rata-rata sudah stabil, terutama bagi dibitur yang bukan memanfaatkan kredit program (KUR),” ujarnya.
Sambungnya, kencangnya laju pertumbuhan kredit tersebut juga dibarengi dengan terjaganya posisi NPL pada periode yang sama. Terbukti, hingga kini posisi NPL Bank BRI Cabang Tabanan hanya mencapai 1, 2 persen. Akuinya, pencapaian tersebut diupayakan dengan menjaga komunikasi, pembinaan, dan pendampingan kepada para nasabah (debitur).
“Setiap pengajuan kredit oleh nasabah, kami akan jelaskan di awal A-Z tentang kewajiban terkait kredit yang diajukan tersebut. Apabila nasabah sudah paham, baru kemudian nasabah bersangkutan teken kontrak,” tandasnya.
Selain itu, tambahnya dalam perjalanan kredit tersebut ketika sudah dicairkan, minimal setiap tiga bulan sekali dilakukan kunjungan ke nasabah, sekaligus mendampingi nasabah apabila menemui kendala atau permasalahan dalam usaha mereka. Akuinya, dari kunjungan ke nasabah tersebut akan diketahui, apakah nasabah bersangkutan perlu diberikan penambahan modal atau malah dikurangi, atau juga dilakukan restrukturisasi.
Sementara itu, tingginya serapan kredit ke sektor perdagangan di Kabupaten Tabanan ini juga diungkapkan oleh Kepala Bidang Ekonomi Setda Kabupaten Tabanan, I Gusti Putu Ekayana. Kata dia, di kredit program dalam bentuk KUR yang disalurkan oleh sejumlah perbankan, memposisikan sektor perdagangan menyerap kredit dengan porsi yang dominan hingga kini. Sebab asumsinya, usaha perdagangan ini tidak seperti sektor pertanian yang membutuhkan enam bulan untuk bisa mendapatkan keuntungan.
“Kalau perdagangan kan setiap hari modalnya berputar dan keuntungan didapat. Sementara kalau pertanian menunggu masa panen dulu. Dan itu menunggu kurang lebih enam bulan. Itu sekaligus menjadi alasan mengapa serapan KUR untuk sektor produksi ini masih rendah di awal 2019,” pungkasnya.*man