Denpasar (Bisnis Bali) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali memprediksi kinerja investasi pada triwulan I/2019 akan tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan ini sejalan dengan selesainya pembangunan proyek infrastruktur dan konstruksi yang terkait dengan persiapan IMF WB AM 2018.

“Selain itu perilaku pelaku usaha untuk melakukan ekspansi usaha sering adanya pemilihan presiden dan pemilihan legislatif pada 2019 juga berpotensi menahan kinerja investasi,” kata Deputi Kepala KPw BI Bali Sapto Widyatmiko di Renon, Selasa (26/3).

Ia mengatakan sesuai kajian ekonomi dan keuangan regional Bali menunjukkan proyek investasi yang masih dalam tahap pengadaan dan persiapan termasuk yang menggunakan anggaran APBN dan APBD juga berpotensi menjadi faktor penahan kinerja komponen ini. Meskipun demikian, investasi tahun ini masih terdapat potensi akselerasi. Komponen ini seiring masih berlanjutnya pengerjaan beberapa proyek konstruksi seperti di Bandara Ngurah Rai, Benoa atau riset dan pengembangan pembangunan hotel dan perkantoran  di kawasan Nusa Dua serta dimulainya pengerjaan pelabuhan Celukan Bawang, pembangunan shortcut Mengwitani-Singaraja titik 3 sampai 4 dan kelanjutan pembangunan shortcut Mengwitani-Singaraja 5-6.

Sementara dari kinerja investasi pada keseluruhan pada 2018, diakui tercatat mengalami akselerasi dari 3,55 persen pada 2017 menjadi 9,01 persen year on year. Peningkatan kinerja investasi tersebut terutama didorong oleh adanya pengerjaan proyek konstruksi yang cukup masih dilakukan pada 2018 termasuk dalam rangka penyelenggaraan IMF WB annual meeting 2018.

“Penurunan suku bunga kredit investasi juga turut andil dalam peningkatan kinerja investasi pada 2018,” ujarnya.

Selain itu peningkatan kinerja investasi juga terkonfirmasi oleh peningkatan impor capital goods serta indikator investasi dari hasil investasi hasil liaison.

Sapto pun menyampaikan dari ekspor impor, hasil survai mencatat neraca perdagangan Bali pada triwulan IV/2018 surplus yang lebih kecil dibandingkan triwulan sebelumnya. Neraca perdagangan gabungan yaitu antara luar negeri dan antardaerah mencatatkan surplus Rp383 miliar pada triwulan IV/2018 lebih rendah dibanding triwulan III/2018 yang surplus Rp1,603 triliun. Penurunan surplus neraca perdagangan gabungan didorong oleh penurunan surplus neraca perdagangan luar negeri di tengah defisit neraca perdagangan antar daerah yang mengalami penurunan pada triwulan laporan. Penurunan surplus neraca perdagangan luar negeri sejalan dengan akselerasi impor luar negeri yang lebih tinggi dibanding eksplorasi ekspor luar negeri pada triwulan laporan.*dik