DIAMANKAN - Penumpang berinisial JFIV yang berpaspor Meksiko diamankan personel Avsec Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai karena kedapatan membawa barang "prohibited items" berupa 10 butir peluru aktif.

Mangupura (Bisnis Bali) – Personel Aviation Security (Avsec) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mengamankan seorang penumpang rute internasional yang membawa barang-barang prohibited items ke dalam pesawat. Penumpang berinisial JFIV kedapatan membawa 10 butir peluru aktif yang disimpan dalam sebuah koper. “Benar. Personel Avsec kembali menahan seorang penumpang rute internasional yang kedapatan membawa sepuluh butir peluru aktif di dalam kopernya,” ujar General Manager PT. Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Haruman Sulaksono.

Kronologi kejadian bermula ketika penumpang maskapai penerbangan JetStar Asia dengan nomor penerbangan 3K-244 tersebut hendak terbang meninggalkan Bali dengan tujuan Singapura. Sesuai dengan prosedur standar keamanan penerbangan, penumpang berpaspor Meksiko tersebut memasukkan koper yang dibawanya ke dalam mesin x-ray nomor 2 yang terletak di pre-screening wing barat terminal keberangkatan internasional.

Pada saat melewati mesin x-ray, personel Avsec menemukan kejanggalan di dalam koper berwarna merah hati tersebut, dan kemudian melakukan pemeriksaan manual secara detail. Ditemukan peluru aktif sejumlah 10 butir yang disimpan dalam sebuah kantong plastik bening. “Selanjutnya, penumpang itu dibawa ke posko keamanan di lantai 3 terminal internasional untuk dimintai keterangan. Penumpang tersebut menyatakan bahwa koper itu merupakan milik ayahnya, serta yang bersangkutan mengaku tidak mengetahui ada peluru di dalam koper yang dibawanya. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, penumpang bersangkutan tidak dapat menunjukkan dokumen maupun surat izin untuk membawa peluru aktif tersebut,” ungkapnya.

Dikatakan, peluru aktif, termasuk senjata api, merupakan barang yang diatur secara ketat dalam penerbangan, karena dikategorikan sebagai barang berbahaya atau dangerous goods. Hal itu mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan No. 80 Tahun 2017 tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional, serta Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. SKEP/100/VII/2003 tentang Petunjuk Teknis Penanganan Penumpang Pesawat Udara Sipil yang Membawa Senjata Api Beserta Peluru dan Tata Cara Pengamanan Pengawalan Tahanan dalam Penerbangan Sipil.

Menurut regulasi, penumpang yang membawa serta senjata api dan peluru aktif wajib melapor kepada petugas pengamanan bandara untuk selanjutnya disampaikan kepada petugas check-in counter untuk proses lebih lanjut. Selanjutnya, senjata api dan peluru aktif akan diperlakukan sebagai security item dan dangerous goods. Penumpang yang membawa barang tersebut juga diwajibkan untuk memperlihatkan surat izin penguasaan dan/atau kepemilikan senjata api dan/atau peluru yang dikeluarkan dari instansi yang berwenang. Penumpang yang membawa peluru aktif juga dibatasi, dengan hanya diizinkan untuk membawa maksimal 12 butir peluru per orang.

Setelah melakukan pengamanan terhadap penumpang tersebut, personel Avsec kemudian berkoordinasi dengan pihak Custom dan Kepolisian Kawasan Udara Ngurah Rai untuk proses lebih lanjut. *dar/editor rahadi