Perajin Tenun Ikat Harapkan Bantuan Permodalan

Singaraja (Bisnis Bali) – Usaha tenun ikat di Bali Utara masih terkendala minimnya dukungan permodalan dan pemasaran. Hasil penjualan kain tenun yang tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi menyebabkan banyak perajin kerap kehabisan modal.

Meskipun pemerintah pusat telah memfasilitasi pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) namun perajin cenderung tidak memanfaatkan perbankan sebagai penopang modal mengingat pemasaran kain tenun sering berfluktuasi, oleh karenanya banyak perajin yang mengandalkan modal seadanya.

Hal itu juga diungkapkan Nyoman Sedana salah seorang perajin tenun dari Desa Kalianget Kecamatan Banjar Buleleng. Selama ini ia mengakui modal yang ia keluarkan sendiri tanpa mengandalkan perbankan, meskipun diakuinya harga bahan baku tenun ikat seperti benang sutra  tiap tahunnya mengalami peningkatan namun dirinya mengaku memutar modal sebisanya dari hasil penjualan tenun ikatnya saja.

“Jadi kita beli bahan bakunya dalam jumlah besar seperti benang sutra terakhir saya beli tahun 2017 lalu dengan harga Rp3.800.000 per ikat di mana satu ikat benang mampu menghasilkan 20 – 25 lembar kain endek,” terangnya.

Ia berharap ke depan ada bantuan permodalan dari pemerintah terkait sehingga para pelaku usaha kerajinan tenun ikat bisa  makin mengembangkan usahanya. “Karena pemasaran belum maksimal itu menjadi pertimbangan kita tidak menggunakan perbankan untuk permodalan usaha kita jika ramai syukur namun jika sepi tentu kita akan keteteran dalam membayar  tiap bulannya,” jelasnya.  *ira/editor rahadi