Budi Daya Buah Kemang, Datangkan Keuntungan Besar

BUDI DAYA buah kemang (wani) menjanjikan keuntungan besar bagi petani. Harga jual buah wani tergolong tinggi dan relatif stabil. Selain itu budi daya juga cukup mudah dan tidak membutuhkan perawatan ekstra.

Made Sudarma, petani asal Desa Suwug,  Sawan, Buleleng memaparkan, pohon wani saat ini mulai langka. Meski demikian, Buleleng masih menjadi sentra produksi buah wani. “Masih banyak petani di Buleleng yang mempertahankan tanaman buah wani. Tetapi memang jumlah pohon yang ditanam tidak terlalu banyak,” ungkapnya.

Wani dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang subur dan memiliki drainase yang baik. Umumnya wani tumbuh di daerah dengan ketinggian 300-500 meter di atas permukaan air laut. Dalam budi daya wani, petani harus pandai memilih bibit. Kualitas bibit sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas buah yang dihasilkan.

“Kalau petani memilih bibit yang unggul selain kualitas buah lebih bagus, dalam waktu 3 tahun pohon wani sudah bisa berbuah, tetapi kalau bibit biasa 8-10 tahun baru akan berubah,” tukasnya. Jadi pemilihan bibit sangat penting dan pengetahuan petani tentang bibit unggul juga sangat dibutuhkan.

Setelah mendapat bibit unggul, untuk memulai budi daya pemilihan lokasi yang tepat juga penting. Tanaman wani membutuhkan tanah yang benar-benar subur, kemudian lakukan pengolahan tanah. Jarak tanam yang baik untuk pohon wani adalah 8-10 meter, karena pohon wani akan tumbuh besar dan rimbun.

“Untuk budi daya, yang harus dilakukan adalah membuat lubang tanam sekitar 30 cm. Kemudian beri pupuk kandang, dan diamkan selama 5 hari supaya racun dalam tanah menguap, setelah itu bibit bisa ditanam, ” tuturnya.

Pohon wani membutuhkan sinar matahari sepanjang hari. Penyiraman dapat dilakukan bila kondisi tanah kering. “Agar tanaman subur dan cepat berbuah lakukan pemupukan dua bulan sekali dengan pupuk kandang karena pohon wani lebih menyukai unsur organik,” tandasnya.

Pohon wani berbuah setahun sekali dengan buah yang lebat seperti halnya pohon mangga. Namun hal tersebut kembali pada kondisi kesuburan tanah. “Makanya pemupukan dengan pupuk organik sangat penting dilakukan. Tetapi kebanyakan petani hanya menanam dan tidak melakukan perawatan, jadi buah yang dihasilkan biasanya kurang maksimal,” ungkapnya.

Wani biasanya berbunga pada Juni sampai Desember dan masak buah pada September sampai Maret. “Tetapi sekarang mungkin karena ada perubahan iklim, itu sangat berpengaruh pada musim panen. Maret ini petani baru mulai panen, padahal biasanya sudah merupakan penghabisan musim,” pungkasnya. *pur