MODAL - BPR wajib melakukan penguatan SDM, penguatan modal dan penguatan TI sehingga sehingga memiliki daya saing.

Denpasar (Bisnis Bali) – Industri bank perkreditan rakyat (BPR) dihadapkan dengan berbagai tantangan di tahun 2019. Oleh karena itu, BPR dituntut memiliki tiga kekuatan untuk siap bersaing pada 2019. Ketua DPD Perbarindo Bali, Ketut Wiratjana, Jumat (22/3) mengatakan, BPR dituntut memiliki tiga kekuatan untuk siap bersaing pada 2019.

Ia mengatakan, kekuatan pertama BPR memiliki SDM berkualitas. SDM BPR memiliki sertifikasi khusus baik di tingkat direksi dan  komisaris. Selanjutnya pejabat eksekutif dan bagian lainnya juga akan melalui proses sertifikasi sesuai arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ia menjelaskan, BPR juga wajib memiliki kekuatan permodalan sesuai ketentuan POJK. Sesuai arahan OJK, untuk siap bersaing BPR wajib memiliki modal minimum Rp6 miliar. Dipaparkannya, BPR juga wajib memiliki teknologi informasi (TI) untuk memudahkan pelayanan kepada nasabah. “Tiga kekuatan ini akan mematangkan BPR siap bersaing dengan bank umum dan lembaga keuangan lainnya,” katanya.

Kepala Bagian Pengawasan  Bank OJK Bali Nusra, Nyoman Hermanto Darmawan, sebelumnya juga mengatakan, guna siap menghadapi tantangan yang begitu berat, BPR wajib mengikuti ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK).

Melihat tantangan persaingan sumber daya manusia (SDM)  BPR diharapkan bisa menambah wawasan dan mengasah kemampuan di bidangnya masing-masing, terutama dalam rangka peningkatan SDM BPR ke depan.

Ia menyampaikan untuk eksis dalam persaingan pengurus BPR dituntut betul-betul memahami ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh OJK, seperti BPR wajib memenuhi ketentuan persyaratan modal inti minimal sebesar Rp 6 miliar.

Hermanto Darmawan menegaskan, dengan modal inti yang makin besar bisa menegaskan pengurus BPR meningkatkan pertumbuhan usaha BPR. Penguatan modal ini dilakukan juga untuk dapat memperkuat kinerja BPR ke depan. (kup)