Sektor Properti Siap-siap Sambut Pasar  ’’Centenial”

Denpasar (Bisnis Bali) – Pasar properti kini dan mendatang akan makin berkembang sehingga pengembang yang komit memajukan usaha di sektor padat modal ini, harus mempersiapkan diri matang – matang. Sebab selain pasar milenial yang kini harus diladeni, juga pasar centennials yang tak kalah selektif membeli. Demikian pengamat properti, Fransiskus, baru – baru ini.

Tantanganya adalah terus berinovasi sehingga mampu memproduksi produk yang berkualitas. Dengan melihat orientasi pasar ini yang lebih bervariasi, yakni tak hanya membutuhkan rumah untuk tempat tinggal, tapi juga untuk investasi dan berspekulasi.

Pihak pemerintah juga punya peran untuk meningkatkan kemudahan bagi kedua segmen pasar ini sehingga ke depan makin siap menghadapi tantangan dan peluang bisnis yang kian berat. Beratnya untuk memasok produk dalam jumlah maksimal di tengah keterbatasan lahan, regulasi, pembiayaan, dan lainnya.

Mengutip Housing Estate, kaum milenial atau gen – y saat ini makin mendominasi pasar, sehingga menjadi fokus hampir semua bisnis termasuk bisnis properti. Kaum langgas ini mulai besar saat peralihan zaman dari teknologi analog ke digital atau saat televisi sudah menggunakan remote control.

Menurut siaran pers perusahaan konsultan marketing MarkPlus Inc di Jakarta, baru – baru ini, sekarang bisnis juga harus mulai mempersiapkan diri menyambut kedatangan kaum centennials atau disebut juga gen z yang lahir menjelang tahun 2000. Kalau milenial merupakan generasi yang melihat pergeseran dari era analog ke digital, kaum centennial adalah generasi yang besar saat teknologi digital itu telah mulai matang.

Melihat rentang tahun kelahirannya, centennial tertua saat ini berusia 23 tahun yang artinya telah mulai menjadi angkatan kerja produktif. Dengan kata lain, dalam lima tahun ke depan generasi ini akan menjadi pasar yang potensial. Karena itu harus mulai disikapi dengan memahami aneka kebutuhan-kebutuhannya khususnya akan produk properti.

Pemilahannya seperti ini. Milenial dengan tech savy menggunakan dua layar dalam satu waktu, lebih fokus pada masa kini, dan komunikasi dominan masih dengan teks. Sementara centennial tech savy dengan lima layar dalam satu waktu, lebih fokus pada masa depan, dan komunikasi dominan dengan gambar (visual).

Dengan tetap fokus pada segmen milenial yang saat ini masih menjadi primadona, pebisnis juga harus mulai meramu strategi pemasaran yang tepat agar relevan dengan kaum centennial. Pebisnis harus lebih piawai menyusun skenario masa kini vs masa depan untuk menghadapi generasi centennial yang akan mulai menjadi konsumen utama dalam 5-10 tahun yang akan datang. (gun)