Bandara internasional I Gusti Ngurah Rai terus mencatatkan kenaikan jumlah penumpang yang keluar masuk Bali tiap tahunnya. Kondisi ini mengindikasikan banyaknya wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang masih memilih Bali sebagai tempat berwisata, selain menghadiri berbagai agenda atau event yang diselenggarakan di Bali. Namun di balik dampak positif tersebut,  masih ada satu kendala yang  menjadi pembahasan di PT Angkasa Pura I (Persero) tersebut, yakni persoalan sarana angkutan masif (masal). Lantas, apa langkah yang akan diambil oleh manajemen Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai?


BERDASARKAN data statistik Lalu Lintas Angkutan Udara (LLAU) terjadi peningkatan jumlah penumpang setiap tahun yang memanfaatkan jasa Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2017, jumlah penumpang yang dilayani bandara kebanggaan Bali ini tercatat 21.051.094 orang. Pada 2018 tercatat 23.779.178 orang. Dari jumlah tersebut, 52,8 persen merupakan penumpang rute internasional, sedangkan sisanya adalah penumpang rute domestik

Sementara pada periode Januari-Februari 2019, tercatat 3.603.624 penumpang keluar masuk Bali melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Angka ini tergolong mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yakni 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini menjadi suatu kebanggaan mengingat hanya Bandara I Gusti Ngurah Rai yang mampu tetap mencatatkan kenaikan jumlah penumpang di tengah tren penurunan jumlah penumpang yang dialami bandara lainnya di Indonesia.

Begitu pula selama lima tahun terakhir, statistik LLAU Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selalu menunjukkan catatan positif. Dalam pencatatan jumlah penumpang dari tahun 2014 hingga 2018, rataan pertumbuhan penumpang mencapai 8,5 persen, dengan catatan jumlah penumpang tertinggi terjadi pada tahun 2018 lalu.

Melihat pertumbuhan tersebut, pada tahun 2019 ini telah ditetapkan target 24,7 penumpang. Hal ini merupakan puncak dari kapasitas Bandara I Gusti Ngurah Rai pada skala nyaman. Guna mencapai target tersebut berbagai upaya dilakukan, di antaranya peningkatan kualitas layanan kepada pengguna jasa bandara serta pengembangan baik pada sisi terminal, runway, taxiway, apron maupun sisi darat yang sebagian telah selesai dikerjakan.

Di balik itu semua, masih dalam upaya pengembangan bandara ke depan, ada satu hal yang kini menjadi perbincangan dan segera akan diwujudkan, yakni persoalan sarana transportasi masif/masal. Hal ini menjadi temuan pihak dunia (Skytrax) bahwa sampai saat ini Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang beberapa kali meraih penghargaan The Best Airport ini belum memiliki sarana transportasi masal. Meski sebelumnya sempat beroperasi bus Damri dan bus Trans Sarbagita namun belum optimal, dan akhirnya tak beroperasi lagi. Untuk itu pihak bandara akan membahas persoalan ini dan mencarikan solusi.

“Ketersediaan sarana transportasi masif/masal merupakan suatu keharusan dan menjadi poin penting bagi sebuah bandara berskala internasional. Masih dalam upaya meningkatkan pelayanan, ada beberapa hal yang akan kami tambahkan, diantaranya angkutan masal baik berupa bus maupun kereta api. Namun di Bandara I Gusti Ngurah Rai pada tahap awal akan diakfifkan bus. Kami sudah melakukan beberapa kali pertemuan dengan manajemen Damri dan Trans Sarbagita, hingga saat ini masih berlangsung. Namun kami juga menyiapkan konsep lain. Jika kedua pihak tidak bersedia, kami akan menggandeng anak perusahaan kami (PT Angkasa Pura Suport) untuk menyediakan armada,” ujar General Manager Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Haruman Sulaksono yang baru saja dilantik.

Dikatakannya, meski ada wacana penambahan sarana transportasi masal di bandara, keberadaan transportasi yang sudah ada selama ini tidak perlu khawatir. Melihat pengalaman saat beroperasinya bus Damri dan Trans Sarbagita tidak semua memilih armada umum tersebut sehingga jumlah customer sangat rendah. Jadi keragaman moda transportasi sangatlah penting.

“Kami berorientasi pada pelayanan, bukan profit, sehingga nanti angkutan massal ini tidak dipungut bayaran. Pada tahap awal kami rencanakan 5 armada bus. Hal ini juga mengingat akses dan kapasitas di bandara sudah padat, jangan sampai menambah bus malah akan menambah kekroditan. Kami akan mengatur schedule penumpang agar pergerakan bus tidak terlalu sering, termasuk shelter terdekat yang bisa digunakan oleh penumpang,” imbuhnya.

Haruman menegaskan, terkait rencana mewujudkan sarana transportasi masal di Bandara I Gusti Ngurah Rai, pihaknya saat ini sedang menjalankan proses termasuk melakukan koordinasi dengan pihak Damri dan Trans Sarbagita. Diupayakan rencana ini bisa terwujud sebelum akhir tahun 2019 sehingga Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tetap menjadi bandara terbaik di mata dunia. (dar)