IKM Bali Tumbuh 1,5 Persen

Denpasar (Bisnis Bali) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali mencatat jumlah industri kecil menengah (IKM) di Bali hingga akhir 2018 mencapai 15.216 unit. Jumlah ini mengalami pertumbuhan sekitar 1,5 persen.

Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Provinsi Bali, Gde Suamba, Kamis (21/3) mengatakan, dengan pertumbuhan jumlah IKM yang terjadi, berpengaruh pula terhadap peningkatan jumlah tenaga kerja yang terserap. Akhir 2018 tercatat jumlah tenaga kerja yang mampu diserap oleh IKM sebanyak 104.193 orang, sementara tahun 2017 hanya 103.969 orang. “Ini memang menjadi tujuan kami, dengan bertambahnya IKM di Bali maka kian banyak peluang untuk menyerap tenaga kerja,” ujarnya.

Dlihat dari data masing-masing kabupaten/kota di Bali, jumlah IKM terbanyak ada di Kabupaten Bangli yang mencapai 4.213 unit. Selanjutnya jumlah IKM terbanyak kedua ada di Kota Denpasar yaitu 4.074 unit dan ketiga Jembrana dengan jumlah IKM sebanyak 1.775 unit. Sementara itu, dilihat dari jumlah tenaga kerja yang mampu diserap, justru jumlah IKM di Kota Denpasar menduduki posisi tertinggi dengan jumlah serapan mencapai 30.862 orang tenaga kerja, posisi kedua yaitu jumlah IKM di Kabupaten Gianyar menyerap 15.109 orang tenaga kerja dan posisi ketiga yaitu IKM di Kabupaten Badung yang menyerap 14.943 orang tenaga kerja.

Dilihat dari nilai investasi, tahun 2018 IKM di Kabupaten Gianyar memiliki nilai investasi tertinggi yaitu mencapai Rp2,99 triliun. Sementara nilai investasi terbanyak kedua dimiliki oleh IKM di Kabupaten Tabanan yang mencapai Rp543 miliar dan terbanyak ketiga dimiliki oleh IKM di Kota Denpasar mencapai Rp282 miliar. Total secara keseluruhan investasi IKM di Bali mencapai Rp4,067 triliun.

Untuk terus mendukung pertumbuhan dan perkembangan IKM di Bali, Suamba mengatakan, berbagai upaya dilakukan, mulai dari memberikan pendampingan terhadap produk yang diproduksi baik dalam kualitas produk hingga desain kemasan, mendukung permodalan hingga fasilitasi pemasaran. Saat ini diakuinya, potensi masih sangat besar dimiliki oleh pelaku IKM, terutama bidang pangan. Dengan demikian, pihaknya pun berupaya mendukung dengan melakukan pendampingan terutama dalam hal keamanan atau standardisasi produk dengan ijin edar, termasuk kemasan. “Tentunya ini merupakan potensi yang harus dikembangkan, karena industri pangan turut mendukung sektor pariwisata di Bali,” katanya. (wid)