MODAL - Upaya OJK bersama Perbarindo dalam mendorong BPR di Bali dalam memperkuat modal inti.

Denpasar (Bisnis Bali) – Dalam penguatan usaha, bank perkreditan rakyat (BPR) sangat efektif jika melakukan penguatan modal inti di awal. Penguatan modal di awal akan sangat bermanfaat untuk operasional dan pengembangan usaha BPR.

Kepala Bagian Pengawasan Bank OJK Bali Nusra, Nyoman Hermanto Darmawan, Kamis (21/3) mengatakan, penguatan modal inti BPR tidak harus menunggu batas akhir sesuai ketentuan POJK. Pemegang saham selaku pemilik BPR sangat baik jika melakukan pemenuhan modal inti di awal.

Ia menjelaskan, pemegang saham ketika melakukan pemenuhan modal inti di awal dampaknya akan lebih baik. Hal ini dibandingkan pemenuhan modal inti di akhir sesuai batas akhir ketentuan POJK.

Menurutnya, dengan pemenuhan modal inti di awal dana tersebut bisa dikelola BPR. BPR akan mendapatkan manfaat lebih. “Dana modal inti dikelola sehingga BPR mendapatkan pendapatan lebih,” katanya.

OJK tentu terus mendorong peningkatan kesadaran pemegang saham BPR di Bali guna terus memperkuat modal inti. Ada sepertiga BPR di Bali memiliki modal inti di bawah Rp6 miliar.

Ia menegaskan, ketika modal inti BPR masih jauh di bawah Rp 6miliar akan menyebabkan suku bunga kredit BPR menjadi lebih tinggi. “Ketika modal inti kecil akan berdampak juga pada kualitas SDM yang direkrut oleh BPR,” katanya.

Hermanto Darmawan menegaskan, modal inti kecil akan berdampak minimnya kemampuan BPR merekrut tenaga berkualitas. Misalkan gaji yang ditawarkan tidak sesuai kemampuan SDM maka analisa kredit berkurang, sehingga larinya ke penurunan performa BPR dan kinerja BPR.

Sekretaris DPD Perbarindo Bali, Made Suarja mengatakan, BPR memang wajib memenuhi ketentuan POJK dalam penguatan modal inti. Penguatan modal inti ini mesti diikuti dengan penerapan manajeman risiko.

Dalam pelaksanaannya manajemen risiko didasarkan pada aset maupun modal inti serta kegiatan yang berbasis teknologi. Dengan modal inti di bawah Rp15 miliar diterapkan 3 manajemen resiko Sementara modal inti Rp15 miliar sampai Rp50 miliar melaksanakan 4 jenis risiko. BPR dengan modal inti di atas Rp50 milar melaksanakan 6 jenis risiko.

Suarja menambahkan, yang paling penting adalah mempelajari aplikasi terkait manajemen risiko ke depan, SDM BPR bisa meningkatkam fungsi kontrol.  Manajemen risiko bisa dilihat dari mana saja melalui pemanfaatan teknologi saat ini. (kup)