Prof. Dr. I Gede Pitana, M.Sc : Tiga Kendala

PEMERINTAH Indonesia melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melihat potensi alam dan budaya, serta MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) mampu memikat hati para wisatawan mancanegara (wisman) untuk berkunjung ke Indonesia. Terbukti, jumlah kunjungan wisman ke tanah air terus mengalami peningkatan setiap tahun. Melihat kenyataan tersebut, pada tahun ini Kemenpar menargetkan sebanyak 20 juta wisman berkunjung ke Indonesia.

Untuk mencapai taget tersebut, banyak hal yang perlu diperbuat, termasuk melakukan perbaikan-perbaikan. Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerja Sama Pariwisata, Prof. Dr. I Gede Pitana, M.Sc., mengatakan, Indonesia masih memiliki banyak kendala di sektor pariwisata. Salah satunya adalah persoalan infrastruktur yang mendukung aktivitas wisatawan di setiap objek wisata. “Infrastruktur merupakan salah satu kendala bagi kita. Contoh ya, kalau wisatawan pergi ke suatu daerah apakah di sana sudah ada infrastruktur yang baik untuk mendukung aktivitas wisatawan tersebut?” ujar Pitana.

Selain infrastruktur, menurut Pitana juga permasalahan lingkungan yang kotor. Indonesia banyak dikritik oleh orang asing karena kurang perhatian terhadap kebersihan. Sampah masih menjadi persoalan yang pelik dan belum bisa dituntaskan hampir di semua wilayah. Hal ini perlu menjadi perhatian serius semua pihak, tidak saja demi keberlangsungan pariwisata tetapi juga menyangkut soal kesehatan dan image.

Ia menambahkan, sumber daya manusia (SDM) tak kalah penting dan ini juga menjadi kendala di sektor pariwisata Indonesia. “Jadi ada tiga kendala utama, yakni infrastruktur, kebersihan lingkungan dan SDM yang menjadi perhatian kita untuk dibenahi agar pariwisata Indonesia bisa eksis di tengah persaingan global,” imbuhnya.

Sementara upaya untuk mencapai target 20 juta wisman tersebut, Pitana mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai cara sebagai bentuk promosi. “Kami sudah melakukan promosi tentang Indonesia dengan berbagai cara, di antaranya lewat online, media cetak, pameran dan festival,” sebut Pitana. Selain itu, Kemenpar juga sering memanfaatkan film yang dibuat atau mengambil lokasi syuting di Indonesia sebagai alat untuk promosi pariwisata yang ada di Indonesia. (dar)