Pasutri mesti Pahami 4 T untuk Keamanan Persalinan

KEBERHASILAN  Program Kependudukan  Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) merupakan barometer dalam mewujudkan keluarga sehat, sejahtera, dan berkualitas. Implementasinya dalam kehidupan dapat dilakukan dengan memperhatikan kesehatan ibu  dan anak. Dimana penting adanya sebuah perencanaan bagi pasangan suami – istri (pasutri) untuk merencanakan kapan atau di usia berapa  saat melahirkan anak pertama, jarak kelahiran  anak, jumlah anak, dan kapan saat berhenti memiliki anak. ” Ini penting untuk menghindari berbagai risiko yang mungkin dialami ibu dan anak saat mengandung atau melahirkan,” Demikian diungkapkan, Koordinator PKB Kecamatan Denpasar Utara, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana(P3AP2KB) Kota Denpasar, I Gusti Ayu Putu Mayuni, S.Sos, baru – baru ini sebagai narasumber pembinaan lomba balita sehat, di Desa Dangin Puri Kauh, Kecamatan Denpasat Utara, Kota Denpasar.

Lebih lanjut PKB BKKBN Provinsi Bali ini, juga memperkenalkan alat obat kontrasepsi (alokon) beserta kelemahan dan keunggulan dari masing – masing alokon tersebut. Dimana tidak semua atau setiap akseptor KB memiliki kecocokan terhadap salah satu jenis alokon, maka dia bisa mengambil alternatif piilihan alokon lain. Contoh, pada IUD atau alat kontrasepsi dalam rahim memiliki efek samping atau kerugian dapat keluar sendiri, jika ukuran IUD tidak cocok dengan rahim pemakai. Untuk itu pemahaman tentang alokon juga penting bagi masyarakat agar dapat memilih alokon yang tepat bagi dirinya.

Selain mengenalkan tentang alokon, anggota ikatan penulis KB Provinsi Bali ini juga menyebutkan ada 4 hal penting yang mesti dipahami untuk dihindari pasangan suami istri dalam merencanakan kelahiran anak. 4 hal penting tersebut dikenal 4 Terlau ( 4T)yakni,  pertama, terlalu muda kurang dari 20 tahun, umumnya di usia ini seorang wanita belum siap dari sisi fisik dan mental. Risikonya bayi lahir belum cukup bulan, pendarahan pada ibu sebelum dan setelah bayi lahir. Dari sisi fisik ibu, rahim dan panggul belum berkembang secara optimal sehingga akan mempengaruhi melancarkan saat persalinan. Ini bisa menyebabkan kesakitan, dan bahkan risiko fatal bagi ibu dan bayi. Dari sisi mental memicu stres atau tekanan psykologis, maupun secara sosial ekonomi. Risiko lain, ibu bisa mengalami keguguran, berat badan lahir rendah (BBLR) pada bayi atau anemia. Kedua terlalu tua yakni hamil di atas usia 35 tahun. Dalam kondisi ini organ kandungan sudah menua, jalan lahir akan jadi kaku, persalinan macet dan berisiko terjadi pendarahan. Risiko hipertensi, ketuban pecah dini, serta persalinan macet. Pendarahan setelah bayi lahir berat badan lahir rendah. Kesehatan ibu juga akan menurun fungsi rahim menurun kualitas sel telur berkurang. Risikonya pada bayi khususnya pada ibu yang mengandung atau melahirkan pada usia lebih dari 40 tahun akan mengalami cacat ( downsyndrome),  kelemahan motorik dan cacat fisik. Biasanya pada situasi ini dokter menyarankan ibu melahirkan dengan cara operasi caesar. Karena hamil pada usia 40 tahun merupakan kehamilan dengan risiko dan konplikasi tinggi. Kemudian ketiga,  terlalu dekat jarak kehamilan. Kurang dari dua tahun atau 24 bulan, dimana kondisi rahim ibu belum pulih, waktu ibu menyusui anaknya atau bayi berkurang. Risiko yang dialami pun senada dengan terlalu muda dan terlalu tua. Keempat, terlalu banyak anak. Dimana ibu pernah mengalami kehamilan atau melahirkan lebih dari empat kali disni akan banyak terjadi proses kekendoran pada dinding perut, biasanya ibu banyak mengalami risiko kelainan letak janin, persalinan letak lintang, ditambah dengan pendarahan pasca persalinan. ” Di samping menambah beban ekonomi keluarga tentu hal ini memiliki risiko yang tak kalah tinggi dengan 3 terlalu lainnya. Untuk itu penting bagi seorang ibu atau calon ibu atau pasangan suami istri  untuk memahami atau menghindari 4 T demi keamanan, persakinan,” tutup Gung Yuni. (gun)