Jadi Komoditi Ekspor, Petani Kopi Munduk Temu tak Nikmati Dampak

Tabanan (Bisnis Bali) –
Di gadang-gadang telah menembus pasar ekspor, namun realitanya petani kopi di Desa Munduk Temu, Kabupaten Tabanan tak menerima dampak dari perdagangan salah satu komoditi perkebunan tersebut. Ironisnya lagi, informasi terkait mutu kopi apa yang diminta oleh pasar ekspor, hal itu tak pernah dikordinasikan dinas terkait dengan petani di Desa Munduk Temu selama ini.
“Petani Munduk Temu dan juga sejumlah desa lain penghasil kopi, ketika kami ajak berdiskusi terkait ekspor kopi, mereka mengaku belum merasakan dampak. Parahnya lagi, entah kopi siapa yang di eskspor?, difasilitasi oleh siapa? termasuk siapa saja kelompok petani penyangga pemenuhan ekspor tersebut? Tidak ada yang tahu selama ini. Namun, produksi kopi dari Pupuan termasuk Munduk Temu ini disebut sebagai asal eskpor selama ini,” tutur Prebekel Munduk Temu, I Nyoman Wintara di Tabanan, Selasa (19/3) kemarin.
Bercermin dari itu, harapannya kepada dinas terkait apa bila ada peluang untuk ekspor kopi agar disampikan kepada petani, khususnya petani kopi atau kelompok tani di Munduk Temu bahwa ada peluang untuk ekspor kopi, sehingga harga kopi yang dinikmati petani pada musim panen bisa menjadi meningkat. Imbuhnya, jika di informasikan dan disosialisasikan ke petani kopi, terkait mutu kopi apa yang bisa diekspor, maka di sisi petani pasti akan menyediakan mutu sesuai yang dinginkan.
Jelas Wintara, saat ini yang terjadi adalah informasi terkait peluang ekpor, bahkan jadi daerah produsen ekspor kopi pun belum pernah terjadi di Desa Munduk Temu selama ini. Akuinya, untuk menjadi komoditi ekspor memang susah, hal sama juga terjadi buah salak yang juga menjadi salah satu komoditi potensial dihasilkan oleh Desa Munduk Temu.
“Namun, jika sudah dikordinasikan oleh dinas terkait terkait persayaratan kualitas ekspor, maka saya yakin petani juga pasti mau belajar untuk bisa memenuhi syarat yang diminta untuk pasar ekspor,” ujarnya.
Di sisi lain sambungnya, saat ini ada 15 kelompok petani kopi di Munduk Temu dan sudah mengarah ke organik, bahkan satu kelompok tani kopi yakni Kelompok Wana Lestari sudah mengantongi sertifikat organik pada pola pertaniannya. Meski begitu, harga kopi ditingkat petani masih sangat rendah. Yakni, dilevel Rp 22-Rp 23 ribuan per kg untuk kualitas kopi asalan. Begitu pula serapan kopi juga sangat kecil, bahkan dominan diambil oleh para tengkulak.
Sementara itu, paparnya potensi produksi kopi di daerah Munduk Temu cukup menjanjikan, namun kini karena pengaruh cuaca yang kurang berhabat berdampak pada produksi agak menurun dari sebelumnya. Itu tercermin dari rata-rata produksi per hektar mencapai 1 ton, sedangkan luas total areal tanam kopi di Desa Munduk Temu mencapai 15 ribu hektar.*man