Disinyalir Ulah Spekulan, Harga Properti Jadi tak Wajar

Denpasar ( Bisnis Bali) –  Ketua DPD REI Bali, Pande Agus Permana Wisuda, baru – baru ini di sela – sela diskusi terbatas bertema Strategi Menghadapi Peluang dan Tantangan Bisnis Properti 2019, di Warung 63 Jalan Veteran, menyinggung adanya fenomena harga properti di Bali yang tiba – tiba melonjak tinggi hingga bisa dikatakan tak wajar.

Menurutnya ini bisa saja terjadi disengaja beberapa faktor. Selain isu besar dibangunnya infrastruktur internasional di satu kawasan sehingga harga lahan jadi meroket. Sebut saja lahan di kawasan sekitar  proyek Bandara Bali Utara, Buleleng yang akan direalisasikan pemerintah. Belum dibangun saja, tiba – tiba dampak dari isu itu pemilik properti baik tanah atau bangunan rumah, sudah ambil ancang – ancang bahkan telah menaikkan penawaran mereka sangat tinggi. Sebut saja lahan sekitar yang awalnya sekitar Rp 30 juta per are, kini dengan mencuatnya isu besar tersebut sudah jadi Rp 300 juta per are.

“Bayangkan setelah dibangun dan operasional berapa harga lahan nanti. Ini tentu sulit dibendung, yang pada akhirnya akan meminggirkan masyarakat kecil yang tak mampu membeli, karena daya beli mereka ibarat  jauh panggang dari api,” ujar developer muda asal Gianyar ini.

Sinyalemen keterlibatan pebisnis dan spekulan yang menyebabkan harga properti melambung tinggi, tentu sulit ditampik. Ini yang akan menyebabkan harga tak wajar, dan seleksi pasar akan terjadi. Hanya investor besar yang bisa bermain, sedangkan yang menengah kecil akan makin kesulitan karena tak didukung daya beli memadai. Karenanya DPD REI Bali, terus berupaya menyediakan solusi ke depan, agar generasi mileniL, dan masyarakat menengah bawah yang ingin memiliki rumah tinggal yang layak huni pun prospek investasi bisa diwujudkan. Salah satunya dengan rumah susun atau vertikal. ” Di Bali memang belum ada perda terkait, sehingga pengembang belum bisa mewujudkannya,” ujar Widura.

Owner, Kharisma Properti, Bagio Utomo menyampaikan  aksi spekulan kadang memang membuat harga tak tentu dan cenderung naik tajam dan tak wajar. Menyikapi ini konsumen diharapkan selektif membeli. Jangan lupa memastikan legalitas produk properti, sehingga tak muncul masalah dikemudian hari. Spekulan umumnya memanfaatkan kondisi properti saat harga promo, dan berusaha menjual kembali dengan harga tinggi. Aksi spekulan tak hanya pada proyek – proyek rumah talak, maupun tanah kapling, namun juga produk properti lamongan kota – kota besar.

Mengutip Housing Estate, makin padatnya perkotaan karena urbanisasi yang tinggi, membuat hunian mau tak mau dibangun vertikal berupa apartemen untuk optimalisasi penggunaan lahan. Namun, dalam praktiknya  sekitar 70–80 persen apartemen dibeli bukan untuk dihuni sendiri melainkan masih untuk tujuan investasi baik disewakan maupun dijual kembali.

Umumnya apartemen juga dipasarkan secara inden, masih berupa gambar dengan janji serah terima sekian tahun kemudian. Karena itu pemasarannya jarang mendapat dukungan pembiayaan dari bank. Umumnya konsumen membeli secara tunai bertahap atau bahkan tunai langsung. Sebagai gimmick, developer lazimnya memberikan harga spesial untuk konsumen seperti itu.

Di satu sisi hal itu memberikan prospek keuntungan yang besar kepada konsumen dari kenaikan harga jual unit apartemen setelah nanti jadi, di sisi lain juga menciptakan risiko tinggi dari kemungkinan apartemen tidak dibangun atau telat dibangun, serta tidak banyak dihuni saat nanti sudah jadi dan diserahterimakan sehingga sulit disewakan dan menjadi sumber kisruh pengelolaan. (gun)