Pohon Cengkeh tak Diremajakan, Produksi pun tak Maksimal

Amlapura (Bisnis Bali) – Pemandangan menarik tampak hampir di sepanjang jalan dan di gang sejumlah banjar di Desa Sangkan Gunung, Sidemen, Karangasem. Dari pantauan Selasa (12/3) kemarin, di desa subur salah satunya terkenal sebagai penghasil cengkeh itu, di tepi jalan dan di gang-gang, warga menjemur hasil panen bunga cengkeh.

Ada bunga cengkeh yang sudah hampir kering, ada juga yang tampak masih agak segar, karena baru dijemur usai dipanen. Alas jemuran bunga cengkeh itu, kebanyakan dari tikar daun lontar, ada juga menggunakan terpal atau anyaman bambu berupa gedek tipis.

Salah seorang wanita petani yang ditemui tengah menjemur cengkeh Me (ibu)  Orson kemarin mengatakan, bulan ini petani di desa itu dan sejumlah desa penghasil cengkeh lainnya di Kecamatan Sidemen, memang sedang panen cengkeh. Cuma hasil panen cengkeh musim tahun ini, tidak sebagus tahun lalu. Musim panen kali ini jumlah produksi agak menurun. Penyebabnya, dugaan Orson yang sudah berumur itu,  cuaca kurang bersahabat, di antaranya musim hujan turun lebih awal. Akibatnya, banyak bunga cengkeh yang gugur atau membusuk.

Menurut Meme  Orson, banyak juga pohon cengkeh  yang tidak mau berbunga atau kalau pun berbunga hanya sedikit atau tidak lebat. Penyebab lainnya, sebagian besar pohon cengkeh sudah berumur tua, dan belum ada upaya petani cengkeh meremajakan kebunnya dengan menanam bibit baru. Penyebab petani enggan mengganti tanaman sudah berumur dan produktivitasnya menurun dengan bibit baru, salah satunya karena masih sayang atau tidak tega menebang pohon cengkeh yang sudah besar-besar. Soalnya, pohon cengkeh itu sudah dipelihara puluhan tahun.

Di samping karena kasihan ditebang, harga cengkeh juga sudah menurun dibandingkan belasan tahun lalu. Kini, terang Orson,  bunga cengkeh kering per kg hanya berkisar Rp 80 ribu, sementara dulu per kg kering bisa tembus Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Kini petani cengkeh hanya melanjutkan memelihara pohon cengkeh yang ditanam zaman dulu dan sudah tua-tua, sehingga produktivitasnya sudah jauh menurun.

Dari pantauan, selain di sejumlah desa di Kecamatan Sidemen, pohon cengkeh sudah tua dan masih dipelihara petani juga ada di Banjar Wates Desa Datah, di Desa Nawa Kerthi, di Tista, di Desa Tribuana Kecamatan Abang, serta di Seraya dan di Desa Bukit Kecamatan Karangasem. Pohon cengkeh sudah tua dan terlihat produktivitasnya menurun itu, tetap dibiarkan tanpa ditebang dan diganti dengan bibit baru.

Di lain pihak, anggota DPRD Karangasem asal Desa Sangkan Gunung, Komang Sujana Yasa mengatakan, hanya hasil pertanian di antaranya cengkeh yang menjadi andalan petani di desanya, serta di sejumlah desa lainnya di Sidemen. Selain cengkeh, juga buah-buahan, seperti durian, manggis, kelapa dan hasil pertanian di lahan sawah holtikultura, padi serta jagung sesuai pola tanam dan musimnya. Menurutnya, petani perlu diberikan penyuluhan tentang perlunya peremajaan tanaman cengkeh. Sebab, sebenarnya kalau hasilnya bagus dan diupayakan dicarikan pasar yang lebih menjanjikan dengan harga cengkeh kering lebih tinggi, bertanam cengkeh masih  cukup memberikan keuntungan atau masih berprospek bagi petani. Sebab, pemeliharaan tanaman cengkeh cukup mudah dan hama dan penyakitnya juga dari informasi petani, tidak terlalu banyak. Tiap tahun pada musim berbunga, tinggal memetik bunga dan menuai hasil. (bud)