Denpasar (Bisnis Bali) – Era disruptif yang ditandai dengan berkembangnya ekonomi digital, kecerdasan buatan, big data, dan robotik disinyalir turut mempengaruhi perkembangan pariwisata di dunia.

Ketua Program Studi Doktor (S3) Pariwisata Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A., mengatakan, untuk menghadapinya diperlukan inovasi pengembangan aspek kepariwisataan yang mengedepankan nilai-nilai budaya dan lingkungan.

Ia menambahkan, Bali sebagai destinasi pariwisata yang mengusung pariwisata budaya sangat berpeluang dalam hal tersebut, salah satunya melalui model ekowisata (ecotourism).

“Sekarang kita (Bali) sudah banyak punya ekowisata, misalnya di Kintamani, di sebelah Gunung Batur sudah ada tempat-tempat spesifik yang harus di-maintenance atau dipelihara bagaimana ecotourism itu berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi  yang kita miliki di Bali dan tidak ada di tempat lain,” katanya usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Universitas Udayana dengan Institut International Informatika Terapan Jepang (International Institute of Applied Informatics of Japan/IIAI) dan Universitas Negeri Vladimir Rusia, di Kampus Unud Sudirman, Selasa (5/3).

Ia mengungkapkan, ekowisata dapat menjadi solusi dari pertentangan antara pariwisata dan kelangsungan ekologi. Keberadaan pariwisata di Bali seringkali dipandang sebagai penggempur utama ekologi Bali. Sebab, keberadaan pariwisata menjadi pemain utama yang melahap lahan-lahan hijau untuk memenuhi akomodasi pariwisata. Melalui konsep ekowisata inilah keduanya diupayakan dapat berjalan searah tanpa saling mematikan.

“Saya kira ini adalah solusi yang paling pas, sehingga kita akan mempromosikan masyarakat setempat, dengan apa yang kita inginkan dari perguruan tinggi bersama pemerintah daerah. Ini yang selama ini jalan-jalan sendiri, kita coba arahkan sejalan,” tambahnya pada acara yang dirangkaian dengan International Seminar and Workshop on Tourism Education, Informatics, and Ecotourism Towards Sustainable Development tersebut.

Namun, untuk dapat mengembangkan ekowisata secara maksimal, saat ini masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, salah satunya adalah kebersihan lingkungan. Tantangan ini diharapkan dapat diperhatikan melalui edukasi kebersihan lingkungan.

Sementara itu, Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. AA Raka Sudewi, Sp.S (K) menyatakan muara dari MoU yang ditandatangani meliputi lima hal utama, yakni terkait kunjungan dan pertukaran mahasiswa pascasarjana dan sarjana untuk studi dan penelitian, kunjungan dan pertukaran staf untuk penelitian, pengajaran, dan diskusi, pertukaran informasi termasuk, tapi tidak terbatas pada pertukaran bahan pustaka dan publikasi, kegiatan penelitian bersama, dan kegiatan-kegiatan lain yang disepakati kedua institusi.

Penandatanganan itu dilakukan oleh masing-masing institusi dengan Rektor Universitas Udayana. Dari IIAI Japan penandatanganan dilakukan oleh Ketua IIAI Japan, Takuro Matsuo, Ph.D, sementara dari Vladimir University ditandatangani oleh Prof. Natalia. (pur)