Denpasar (Bisnis Bali) – Angka rata-rata kredit bermasalah di bank perkreditan rakyat (BPR) di Bali masih bertahan di atas 5 persen. Sudah saatnya BPR move on menyikapi kenaikan non perfoming loan (NPL). Direktur Utama BPR Lestari, Pribadi Budiono, Selasa (5/3) mengatakan, NPL debitur akan membebani BPR selama 1-2 tahun. Pada 2019 saatnya BPR move on. Ketika NPL diselesaikan maka BPR akan kembali bersih.

Permasalahan NPL ibarat penyakit dalam tubuh manusia. Ketika NPL diselesaikan ibarat darah segar, gerakan BPR akan makin lincah guna mendorong pertumbuhan BPR. Dalam penyelesaian kredit bermasalah, BPR harus berani menghadapi situasi akan kerugian yang diperhitungkan terlalu tinggi. BPR harus berani menyelesaikan kredit bermasalah agar tidak membebani BPR bertahun tahun.

Penyelesaian kredit dengan penjualan jaminan walaupun dibebankan kerugian. Dipaparkannya, penjualan jaminan salah satu langkah penanganan kredit bermasalah. Kadang-kadang NPL dipegang pertanyaannya dijual murah tidak laku. BPR wajib buat program jual jaminan secara kredit. Kredit penjualan jaminan ini dengan bunga super murah.

Jaminan kredit debitur dalam bentuk properti. Kredit properti ini disalurkan dengan bunga lebih ringan akan membuat orang ingin beli. “Debitur menjadi makin ingin beli karena murah,” katanya. Ia menegaskan, jual jaminan sangat tepat memecahkan kredit bermasalah. BPR masih tetap untung karena dalam kondisi NPL kredit tidak dapat bunga.

Pribadi Budiono menambahkan, ketika penjualan jaminan masih mendapatkan bunga setengah bunga umum. Restrukturisasi kredit dilakukan ketika debitur masih mampu membayar angsuran kredit. “Jika tidak mampu terapkan langkah terakhir jual jaminan debitur,” katanya. (kup)