Eksportir Hortikultura Keluhkan Kenaikan Tarif Jasa Pengiriman

Tabanan (Bisnis Bali) –

Sejumlah eksportir hortikultura mengeluhkan pascanaiknya tarik jasa laya pengiriman melalui maskapai menyusul kenaikan tarif kargo oleh perusahaan penerbangan. Sebab itu, guna menekan biaya produksi, kalangan eksportir ini berencana untuk menekan pembelian produk dari petani untuk bisa tetap bersaing dipasar ekspor.
“Kenaikan tarif tersebut menjadi kendala sekarang ini. Menyikapi itu, dengan makin besarnya biaya distribusi tersebut, kami akan menyikapi dengan rencana menekan biaya pembelian ke petani. Namun, hal tersebut belum kami lakukan saat ini,” tutur salah seorang eksportir manggis sekaligus pengelola usaha PT., Radja Manggis Sejati, Jero Putu Tesan, di Desa Padangan, Kecamatan Pupuan Tabanan, Jumat (1/3).
Terangnya, langkah tersebut diambil dalam rangka untuk bisa bersaing harga dengan produk sejenis dari Negara kompetiter (pesaing). Yakni, Thailand yang pada waktu berbarengan untuk musim panen manggis berbarengan dengan waktu panen di Indonesia. Imbuhnya, selama ini untuk harga jual manggis dipasar internasional, khususnya yang menyasar ke Tiongkok, akuinya manggis dari Thailand harganya cukup murah.
Penyebab Thailand ini bisa menjual manggis dengan harga murah, karena dari segi jarak lebih dekat dengan Tiongkok. Bercermin dari itu jelas Tesan, bila produksi manggis dari Bali ini dijual dipasar ekspor dengan harga yang lebih tinggi dari Thailand, maka buyer (Negara importir) yakni Tiongkok ditakutkan akan lebih memilih memasok manggis produksi dari Thailand daripada manggis dari Indonesia atau Bali.
“Memang dari dari sisi persentase kenaikan biaya jasa pengiriman ini tidak signifikan, namun yang namanya setiap kenaikan pastinya harus diantisipasi,” ujarnya.
Tambahnya, antisipasi lain yang juga menjadi pertimbangan menyikapi kenaikan tarif jasa kargo oleh perusahaan penerbangan ini adalah dengan melirik jalur distribusi melalui laut. Cuma akuinya, untuk distribusi laut ini harus mempersiapkan SDM untuk menjaga kualitas, termasuk ketahan buah agar tetap dalam kondisi baik ketika sampai dinegara tujuan karena lebih lamanya waktu pengiriman. Selain itu, kendalanya yang masih menjadi pertimbangan adalah, untuk pengiriman pelabuhan laut melalui Bali (Benua) belum bisa, maka harus mengirim melalui pelabuhan di Surabaya dan Tanjung Priuk.
“Meski sudah mempersiapkan antisipasi, kami tetap berharap agar biaya tarif kargo oleh perusahaan penerbangan ini dievaluasi karena membebani pada eksportir. Termasuk juga petani sebagai produsen,” tegasnya. *man