TRADISI membuat ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi, belakangan tak hanya tentang tradisi dan ritual. Namun mulai berkembang menjadi ajang kreativitas seni bahkan bisnis yang menjanjikan.

“Untuk membuat ogoh-ogoh memang perlu kreativitas dan kebersamaan, makanya dua bulan sebelum Nyepi, biasanya anak-anak muda  yang tergabung dalam Sekaa  teruna mulai membuat ogoh-ogoh. Tapi belakangan banyak Sekaa teruna yang memilih membeli ogoh-ogoh, ada yang membeli tapelnya saja (bagian kepala) bahkan ada yang membeli utuh,” tutur Nengah Merta, pembuat ogoh-ogoh.

Hal tersebut membuat ajang tahunan, pembuatan ogoh-ogoh menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. “Untuk membuat ogoh-ogoh dibutuhkan jiwa seni, tapi kadang tidak semua orang memiliki jiwa seni. Makanya banyak Sekeha teruna yang memilih membeli ogoh-ogoh supaya tetap berpartisipasi saat malam pengerupukan,” tukasnya.

Tahun ini, ia mendapat pesanan ogoh-ogoh dari sejumlah Banjar di kabupaten Badung. “Kebanyakan ogoh-ogoh saya kerjakan langsung di Banjar, jadi tidak perlu dikirim lagi kalau sudah jadi. Karena itu juga membuat biaya pengiriman,” tukasnya.

Terkait pembuatan ogoh-ogoh di Banjar tersebut ia mengaku, bahan baku disediakan oleh Sekeha teruna. “Jadi saya hanya menjual tenaga dan pikiran dalam pembuatan ogoh-ogoh. Ide cerita bisa dari Sekaa teruna atau dari saya,” ungkapnya.

Terkait tarif ia mengaku tergantung dari tingkat kesulitan dan besar kecilnya ogoh-ogoh yang dibuat. “Sebelumnya saya cuma membuat ogoh-ogoh untuk di Banjar sendiri, karena sering menjadi juara kemudian banyak Banjar tetangga yang mulai order tapel saja. Akhirnya lama-ama pada minta dibuatkan sampai jadi, tapi masih ada juga yang cuma order tapel,” paparnya.

Untuk tapel saja dibandrol ratusan ribu tergantung ukuran. Sedangkan untuk ogoh – ogoh jadi harga hingga belasan juta. Namun, diakui pihaknya masih menggunakan bahan gabus yang tak ramah lingkungan. Karena dari proses pengerjaan jauh lebih mudah dan hasil juga lebih mendekati detail. (pur)