Ogoh-ogoh yang akan di arak saat Pengerupukan Rabu (6/3).

Denpasar (Bisnis Bali) – Internet merupakan kebutuhan wisatawan saat berlibur ke Bali. Oleh karena itu, imbauan PHDI Bali untuk mematikan internet saat Nyepi harus dipertegas melalui instansi atau lembaga terkait.

Ketua DPD Asita Bali, Ketut Ardana, Senin (25/2) mengatakan, pada Nyepi tahun 2018 lalu, Bali mampu menghentikan internet dalam waktu 24 jam. Ini tentu mendapatkan perhatian dunia, karena di samping menghentikan aktivitas bandara selama 24 jam, Bali mampu menghentikan internet selama 24 jam selama perayaan Nyepi. Ia menjelaskan, imbauan PHDI  Bali untuk kembali mematikan internet selama 24 jam saat Nyepi mendatang perlu dipertegas. Jika upaya mematikan internet dilanjutkan dalam Nyepi tahun 2019 tentu disampaikan aturan atau imbauan jelas.

Dipaparkannya, upaya mematikan internet ini tanpa alasan jelas terlihat akan merugikan wisatawan dan pariwisata Bali. “Asalkan sudah dijelaskan secara baik jauh-jauh hari upaya mematikan internet  tidak ada masalah,” katanya.

Internet tidak hanya kebutuhan wisatawan, tetapi kebutuhan semua lapisan masyarakat. Industri pariwisata sangat membutuhkan internet karena terkait dengan bisnis. Dengan imbauan mematikan internet yang tegas, pelaku industri pariwisata bisa menginformasikan kepada semua pihak terkait partner bisnis baik di dalam maupun luar negeri.

Imbauan  kepada wisatawan  selama mengikuti paket Nyepi tentu tinggal disampaikan kepada wisatawan. “Kita tinggal menjelaskan kepada wisatawan atau calon wisatawan apa itu Nyepi, sehingga mereka tertarik untuk berlibur di Bali,” katanya.

Ia mengatakan, Nyepi adalah tahun baru saka yang dirayakan oleh umat Hindu di Bali. Nyepi menjadi menarik karena pelaksanaannya yang sangat unik dan hanya ada di Bali.

Ardana menambahkan, Nyepi bagi umat Hindu di Bali untuk melakukan catur brata penyepian. Hal ini menjadi daya tarik yang sangat luar biasa. (kup)