Rumah Susun di Bali mesti Berwawasan Budaya Kearifan Lokal

Denpasar (Bisnis Bali) – Keberadaan rumah susun atau apartemen di Bali masih dianggap masyarakat kurang berbudaya. Biasanya di Bali masyarakat menempati rumah tinggal yang berpatokan pada aturan Asta Kosala Kosali. Untuk itu masyarakat masih enggan membeli atau menempati rumah susun dan apartemen.  Disisi lainnya dampak kekurangan lahan dan alih fungsi lahan sudah saatnya di Bali ditawarkan bangunan tempat tinggal yang vertikal atau disebut rumah susun dan apartemen.

Pemerhati bangunan IGN Suteja baru – baru ini menerangkan sekarang ini di Bali khususnya di kawasan yang sudah padat penduduk seperti Kota Denpasar,  Kabupaten Badung,  Gianyar dan Tabanan sudah sulit dibangun rumah yang terjangkau bagi masyarakat pada umumnya.  Dimana kebutuhan rumah tinggal masyarakat yang berpendapatan rendah masih sangat banyak.

”Dengan sudah penuh sesak dengan kawasan pemukiman khususnya di perkotaan maka ada penawaran dari pengusaha untuk rumah susun.  Di Bali sudah ada beberapa rumah susun dan apartemen.  Namun tidak berkembang.  Karena peminatnya sangat minim.  Khusus bagi masyarakat Bali yang tidak terbiasa dengan suasana rumah susun.  Dalam satu bangunan yang bertingkat (vertikal)  dibagi banyak ruangan untuk tempat tinggal.  Layaknya hunian di hotel,  namun karena ditempati untuk satu keluarga dan selamanya maka tingkat kebersihan dan penataannya kurang bagus. Biasanya kelihatan kumuh, ” kata Sutedja sambil menyebutkan jika dipaksakan dibangun rumah tinggal vertikal dikhawatirkan yang akan menempati bukan masyarakat asli Bali.

Praktisi bisnis properti,  Ir. Bagus Kusuma juga menyebutkan sudah sejak lama pebisnis ingin menawarkan rumah tinggal bagi masyarakat yang membutuhkan khususnya di kota dalam bentuk bangunan vertikal.  Namun sampai kini respon masyarakat  belum ada sehingga sebagai pengusaha properti belum berani mencoba gambling.  Karena takut tidak akan ada peminatnya.

”Kami sebagai pebisnis jika ada yang membutuhkan pasti akan buatkan sesuai keinginan.  Namun kalau coba buat dulu baru dipasarkan belum berani.  Apalagi dalam kondisi ekonomi sekarang ini masih lesu,  untuk berbisnis baru sangat berisiko tinggi, ” tegasnya.

Salah seorang masyarakat asal Denpasar,  I Komang Sudartha menegaskan untuk kebutuhan rumah tinggal memang sangat mendesak.  Karena di rumah asalnya sudah sangat padat.  Dimana dalam satu pekarangan rumah hanya dengan luas 5 are ditempati bersama 8 kepala rumah tangga.  Untuk itu,  Sudartha berkeinginan untuk pisah tinggal bersama keluarga besarnya.  Dengan membeli rumah tinggal yang sesuai kemampuannya.

”Saya memang ada keinginan  untuk membeli rumah.  Tapi kemampuan saya rumah sederhana.  Kalau ditawarkan rumah susun sampai saat ini belum tertarik.  Karena rumah susun bukan budaya Bali.  Jika saya paksakan takutnya dikemudian hari akan menyesal, ” jelasnya. (sta)