Ekonomi Relatif Lesu, Daya Beli Pasar kian Bergeser

Denpasar (Bisnis Bali) – Dalam kondisi ekonomi yang masih lesu sampai saat in,  bisnis properti tidak mengalami stagnasi.  Hanya saja daya belinya bergeser ke yang lebih murah.  Bahkan dari beberapa tahun ini pemasaran rumah tinggal yang di bawah Rp 400 juta tergolong cukup laku.

Pemerhati bisnis properti yang mantan Ketua REI Bali,  Dr. Drs. I Dewa Putu Selawa, M.M., Senin (25/2) di Denpasar menjelaskan bisnis properti belakangan ini yang hanya bergeser yakni daya beli saja.  Bahkan permintaan cukup banyak,  karena masyarakat yang belum memiliki rumah tinggal sangat tinggi.  Untuk itu para pebisnis properti saling bersaing memburu calon pembeli.

”Pemain bisnis yang berani memberikan pelayanan dan kemudahan kepada calon pembeli pasti terjadi transaksi.  Karena kebutuhan masyarakat akan rumah tinggal cukup banyak.  Jadi pelaku bisnis yang mampu menebak kemampuan konsumen pasti akan laku menjual rumah, ” tegasnya.

Hal ini juga diakui praktisi bisnis properti lainnya,  Ir. Gede Dirga yang mengamati beberapa tahun terakhir ini pergerakkan bisnis rumah tinggal di Bali.  Selain yang laku rumah bersubsidi,  juga rumah tinggal yang harga jualnya masih berkisar  Rp 300 juta –  Rp 400 juta.  Seperti di Kabupaten Tabanan para developer yang membuka kawasan baru dan harga jualnya di atas Rp 250 juta – Rp 300 juta cukup laku.  Demikian juga di kabupaten lainnya yang sampai saat ini banyak peminatnya.

”Sebenarnya peminat cukup banyak.  Karena masih dalam kondisi ekonomi belum pulih maka masih banyak yang bingbang.  Nah jika ada yang memberikan penjelasan maka yakin akan mau membeli rumah karena mereka sangat membutuhkan, ” katanya.

Dirga menambahkan, dalam kondisi ekonomi seperti ini pihak pemerintah semestinya mendorong kebutuhan rumah untuk rakyat.  Dengan memberikan kemudahan perizinan dan lainnya.  Jika memungkinkan lanjut Dirga pemerintah memfasilitas  lahan. Karena sampai saat ini lahan harganya cukup tinggi.  Khususnya yang ada di wilayah kota besar seperti Denpasar,  Badung dan Gianyar.  Hal ini akan dapat membantu pemenuhan akan rumah tinggal bagi yang benar – benar membutuhkan.

”Sayangnya selama ini pemerintah tidak merespon tentang kebutuhan rumah tinggal.  Bahkan sebaliknya justru perizinan dipersulit sehingga menimbulkan beban biaya tinggi yang harus ditanggung masyarakat selaku konsumen, ” jelasnya. (sta)