Gianyar (Bisnis Bali) – Sekitar 296 siswa SD se-Kabupaten Gianyar mengikuti Festival Nyurat Aksara Bali yang digelar di Balai Budaya Gianyar, Kamis (21/2). Lomba yang dibuka oleh wakil Bupati Gianyar, A.A Gede Mayun ini berkaitan dengan  bulan bahasa Bali di Februari 2019.

Plt. Kadis Kebudayaan Gianyar, Drs. I Made Suradnya, M.Si, di sela-sela acara Festival Nyurat Aksara Bali mengatakan festival ini yang diprakarsai oleh penyuluh bahasa Bali di Kabupaten Gianyar. Peserta diwajibkan selama waktu 60 menit nyurat aksara Bali di atas kertas menyalin sebuah cerita yang telah diberikan oleh panitia.

Ia menjelaskan Festival Nyurat Aksara Bali merupakan salah satu implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara Bali. Setelah sebelumnya sudah dilaksanakan implementasi-implementasi lainnya seperti penggunaan bahasa Bali dalam setiap kegiatan pemerintahan di hari Kamis, maupun penggunaan aksara Bali pada papan nama instansi.

Selain menyelenggarakan Festival Nyurat Aksara Bali, juga akan mengikuti lomba tingkat Provinsi Bali seperti lomba mesatua Bali, membaca puisi berbahasa Bali dan lomba dharmawacana.

“ Jadi setiap Februari di Bali merupakan bulan bahasa Bali, dan kami akan mengisinya dengan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan upaya pelestarian seni, adat istiadat, dan budaya Bali,” kata Made Suradnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Gianyar, A.A Gede Mayun, menegaskan  Festival Nyurat Aksara Bali ini diharapkan mampu membawa dampak yang positif bagi anak-anak di Kabupaten Gianyar. Di mana saat ini seperti kita ketahui, bahasa Bali mulai dianaktirikan di daerahnya sendiri, bahasa Inggris menjadi sebuah kewajiban untuk menentukan masa depan.

“ Saya harap lewat nyurat aksara Bali, anak-anak lebih mencintai bahasa dan sastra daerahnya sendiri, dan untuk orang tua agar mulai membiasakan diri menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa percakapan sehari-hari di rumah,” harap A.A  Mayun.

Wabup. A.A Mayun juga menegaskan aksara Bali ini merupakan salah satu seni sastra warisan leluhur yang memiliki nilai filosofis yang tinggi. Jika diibaratkan dengan tumbuh-tumbuhan, sastra merupakan akar dari tanaman, pohonnya (batang) merupakan desa pakraman, sementara bunga maupun buahnya merupakan seni dan dan budaya, sedangkan roh yang menghidupkan tanaman tersebut tiada lain adalah Agama Hindu. Hal inilah yang harus mulai ditanamkan pada anak-anak sejak dini.

Untuk juri yang berasal dari unsur Widya Sabha Dharmagitha Kabupaten Gianyar dibantu oleh para penyuluh bahasa Bali, nantinya akan melihat bentuk dan komposisi tulisan, ketepatan ejaan (pasang aksara), kerapian dan kebersihan tulisan dan ketepatan waktu yang disediakan. (kup)