Kurs Rupiah Terjaga, Peternak Berharap Pabrik Pakan Turunkan Harga Produk

Tabanan (Bisnis Bali) –
Sejumlah peternak di Kabupaten Tabanan berharap pabrik atau produsen pakan melakukan penyesuain harga jual produk dipasaran saat ini. Itu menyusul dengan terjaganya kurs rupiah terhadap dolar AS belakangan ini, ditambah lagi dengan mulai turunnya harga jagung yang sebelumnya menjadi salah satu indikator bagi pabrikan untuk menaikan harga pakan.
Salah seorang peternak ayam petelur di Desa Buruan Tabanan, Darma Susila, di Tabanan, Kamis (21/2) mengungkapkan, sekarang ini harga telur ayam ditingkat peternak cendrung mengalami penurunan. Akuinya, kondisi tersebut membuat peternak menjadi tindak bergairah, mengingat biaya produksi khususnya pakan masih cukup mahal sekarang ini.
“Per hari ini harga telur ditingkat peternak sudah turun lagi menyentuh Rp 1.150 per biji untuk di Tabanan. Di sisi lain untuk harga pakan jadi dari produksi pabrikan masih bertahan dikisaran Rp 6.350 per kg,” tuturnya.
Jelas Darma, bercermin dari kondisi harga tersebut dikaitkan dengan BEP, maka peternak tidak menikmati untung dari usaha yang telah dilakukan. Sebab, harga pakan yang terjadi sudah melebihi dari harga ideal yang harusnya berada dikisaran Rp 4.500-Rp 5.000 per kg.
Harapannya nanti, Maret nanti yang merupakan musim panen raya jagung untuk Indonesia wilayah Timur, dan bercermin dari perkembangan kurs rupiah terhadap dolar AS yang berada dalam posisi terjaga. Dua indikator tersebut bisa berdampak signifikan, khususnya dari sisi pabrik pakan (produsen) untuk melakukan penyesuaian (penurunan) harga jual pakan, karena harga beli bahan baku pakan sudah lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya.
“Saat ini harga jagung sudah kembali menyentuh Rp 4.800 per kg dari harga Rp 6.000 per kg, sedangkan kurs rupiah juga terjaga dikisaran Rp 14.000 an per dolar AS. Terkait hal ini, saya sempat konfirmasikan ke pabrikan, dan mereka (pabrikan) pun berjanji akan merevisi harga dalam satu minggu kedepan ini,” tandasnya.
Sementara itu paparnya, awal mahalnya harga pakan ini alasan dari pabrikan disebabkan oleh biaya produksi yang mengalami kenaikan disumbang oleh gejolak rupiah terhadap dolar AS yang sebelumnya terjadi, kondisi tersebut diperparah lagi dengan naiknya harga jagung di dalam negeri sebagai dampak turunnya produksi beberapa waktu lalu. Seiring dengan itu, akhirnya pemerintah memutuskan untuk melakukan impor jagung mencapai 100 ribu ton dan itu sudah didistribusikan.
Sayangnya, impor jagung tersebut belum banyak berdampak pada harga jual pakan pabrikan yang disodorkan ke tingkat peternak. Akhirnya, pemerintah pada pertengah Januari 2019 lalu mengeluarkan Surat Edaran (SE) untuk menaikkan harga telur ditingkat peternak, suplayer dan pengecer. Sayangnya, lagi-lagi upaya pemerintah yang ingin membantu peternak ini kembali tidak berhasil pada membaiknya harga telur dipasaran.
“Terbukti harga telur tetap saja murah, karena stok telur ditingkat peternak dalam kondisi yang melimpah. Di sisi lain, permintaan pasar untuk telur ini juga menurun, sehingga tidak mampu untuk mendongkrak harga sesuai dengan SE tersebut,” pungkasnya.*man