Amankan Nyepi, Pemkot Libatkan Semua Komponen

Denpasar (Bisnis Bali) – Mengamankan prosesi pelaksanaan  hari raya suci Nyepi, Pemerintah Kota Denpasar terus memaksimalkan persiapan dengan melibatkan seluruh komponen. Seperti yang dilaksankan Satpol PP Kota Denpasar telah mematangkan persiapan agar prosesi perayaan hari raya suci Nyepi berjalan dengan aman dan damai. Demikian disampaikan Kasatpol PP Kota Denpasar, I Dewa Sayoga, saat memimpin pertemuan yang melibatkan kepolisian, TNI, tokoh masyarakat serta kepala desa/lurah, Kamis (21/2).

“Melalui pertemuan ini kita lebih mematangkan persiapan pengamanan untuk prosesi perayaan hari suci Nyepi. Terutama dalam prosesi pengarakkan ogoh-ogoh,” ujarnya. Menurutnya pengarakkan ogoh-ogoh menjadi rawan karena saat mengarak sering bertemu antara ogoh-ogoh satu dengan lainnya. Terlebih lagi musik yang digunakan adalah sound system. Dengan adanya keputusan Walikota melarang penggunaan saound system dan pengeras suara saat pengarakkan ogoh-ogah sangat membantu untuk mewujudkan suasana damai.

Untuk itu Sayoga juga berharap semua komponen masyarakat dan tokoh masyarakat turut mensosialisasikan kesepakan bersama tentang pelarangan penggunaan sound system dan pengeras suara saat pengarakkan ogoh-ogoh. Mengingat  ogoh-ogoh merupakan kearifan lokal maka sepatutnya dalam pengarakkan ogoh-ogoh juga harus diiringi dengan gamelan tradisional. “Bila saat pengarakkan ogoh-ogoh masih ada yang menggunakan sound system dan alat pengeras suara pihaknya bersama apparat kepolisian dan TNI serta tokoh masyarakat akan melaksanakan tindakan tegas menyita sound system dan alat pengeras suara. Hal itu melanggar Perda No.1 tahun 2015 tentang ketertiban umum,” ujarnya.

Terlebih lagi diperkirakan di Kota Denpasar terdapat ribuan ogoh-ogoh yang akan keliling di masing-masing wilayah tentunya juga menjadi potensi sangat besar menimbulkan gesekan. Di samping itu menurut Sayoga tahun ini merupakan tahun politik, tentunya diharapkan jangan sampai terjadi hal-hal tidak dinginkan. Pihaknya juga sudah memetakan beberapa titik rawan menjadi atensi dalam pengarakan ogoh-ogoh mulai dari kemacetan hingga pada menimbukan bentrokan antara pengarak ogoh-ogoh. “Semua itu bisa dihindari bila kita sama-sama bergandengan tangan untuk menjaga keamanan,” ujarnya.

Selain saat pawai ogoh-ogoh juga saat pelaksanaan pemelastian juga menjadi perhatian pihak keamanan. Mengingat pelaksanaan pemelastian melibatkan masyarakat yang sangat besar.

Kasi Pelestarian Adat Tradisi Masyarakat, Ngurah Jalanjana menyampaikan ogoh-ogoh yang telah terdaftar di Dinas Kebudayaan yang mengikuti lomba sebanyak 163 ogoh-ogoh dari empat kecamatan. Dari jumlah tersebut hanya dipilih 8 besar ogoh-ogoh yang akan mendapat penghargaan. Untuk prosesi pengarakkan ogoh-ogoh pihaknya menyerahkan sepenuhnya di lingkungan masing-masing.  (sta)