Mangupura (Bisnis Bali) – Agar tidak terbuang sia-sia potongan atau limbah kayu yang tidak terpakai bisa dijadikan berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satunya kerajinan pelangkiran yang cukup banyak dicari konsumen khususnya umat Hindu.

Pengusaha ukiran kayu,  I Made Rai Parwata, baru – baru ini   mengatakan, dirinya sudah terbiasa memanfaatkan sisa potongan kayu untuk dijadikan benda yang bisa dipakai dalam kehidupan sehari – hari. Bahkan potongan yang terkecil pun bisa difungsikan saat tangan-tangan kreatif mau menggarapnya. Dikatakannya beberapa produk kerajinan yang dibuatnya dengan bahan limbah diantaranya pelangkiran hingga hiasan-hiasan kecil pelengkap ukiran rumah seperti apit-apit dan bunga-bunga. “Semua bisa diolah dan dimanfaatkan menjadi benda yang bisa digunakan asal kita mau kreatif mengerjakannya,”ungkapnya.

Dikatakannya untuk jenis kerajinan  pelangkiran akunya saat ini banyak peminat. Biasanya mereka yang mencari kalangan pemilik toko perlengkapan upacara, selain pelanggan eceran yang juga kerap datang langsung ke perusahaannya. Harga jual pelangkiran ini pun bervariasi, mulai dari Rp50.000 – Rp450 per pcs tergantung ukuran dan jenis ukiran yang ditawarkan.

Kayu yang digunakan untuk pelangkiran ini pun merupakan kayu yang berkualitas terutama kayu cempaka yang biasa digunakan masyarakat untuk membangun tempat suci. “Kayu yang saya gunakan merupakan sisa potongan material untuk membuat sanggah (tempat suci),” jelasnya.

Dia yang mulai menggeluti dunia bisnis ukiran sejak tahun 2001 ini mengatakan telah menerima pesanan ukiran dari berbagai wilayah di Bali. Jenis ukiran yang dijualnya pun tidak hanya ukiran kayu yang digunakan untuk bagian atas tempat suci atapun rumah Bali, namun juga melayani ukiran yang berbahan dasar batu hitam dan berbahan dasar batu bata. Di samping itu dia juga menjual beberapa jenis furniture seperti lemari, tempat tidur, meja, dan sebagainya dengan memanfaatkan 56 karyawan tetap yang bekerja di tempatnya. (wid)