Semarapura (Bisnis Bali) – Untuk mengendalikan maraknya prostitusi berkedok kafe remang-remang dan warung kecil yang sudah masuk hingga ke pelosok desa, para prajuru adat maupun dinas perlu dibekali produk hukum berupa perarem maupun perdes. Dengan dasar produk hukum tersebut maka prajuru adat dan dinas harus tegas dalam mengedalikan situasi desanya dari berbagai penyakit sosial masyarakat tersebut.

Demikian disampaikan Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta saat melaksanakan bedah desa ke-42 di Desa Negari Kecamatan Banjarangkan. “Selain harus memiliki perarem maupun perdes, para prajuru juga harus berani dan tegas menindak tempat-tempat maksiat dan hal-hal negatif lainnya yang berkembang di wilayahnya. Karena sekali saja bisnis semacam itu tumbuh dan berkembang, maka selamanya desa tersebut akan dicap negatif,” ujar Bupati suwirta.

Selain menyoroti masalah warung esek-esek yang terdapat di wilayah Desa Negari, dalam bedah desa ini Bupati Suwirta juga mengungkapkan betapa dalamnya ketimpangan kemiskinan di desa ini. Beberapa warganya bahkan ada yang tidak memiliki dapur dan mesti memasak di alam terbuka dengan tungku seadanya.

Total warga miskin berjumlah 77 kepala keluarga (KK) dan jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) pun terbilang banyak, yakni berjumlah 10 orang. Menurutnya, kemiskinan di desa ini umumnya bukan karena sakit, namun karena kurangnya motivasi dari lingkungan masing-masing.

“Kali ini cukup banyak saya temukan KK miskin yang badannya sehat, memiliki bangunan rumah yang tidak bagus, namun memiliki halaman rumah yang luas. Untuk itu segera akan kami latih bertani dengan metode hidroponik serta pemasaran hasil produk pertaniannya ke depan,” ujarnya.

Selain itu KK miskin yang berprofesi sebagai buruh bangunan juga akan dikumpulkan dan diberikan pelatihan serta bantuan alat untuk selanjutnya dikirim ke Nusa Penida.

Menurut Bupati Suwirta saat ini Nusa Penida sedang membutuhkan banyak tenaga tukang bangunan dengan banyaran yang lebih tinggi dibandingkan di Klungkung daratan. Anggota KK miskin lainnya ada pula yang diangkat menjadi tenaga kontrak sebagai tukang sapu dan tukang kebun, bahkan ada yang akan diikutkan seleksi pelatihan kerja kapal pesiar.

“Mengubah pola pikir orang sangat susah, saya yakin bahwa pemberdayaan dan motivasi melalui bedah desa ini sangat penting untuk memberantas kemiskinan. Memberikan mereka peluang usaha dan lapangan kerja akan lebih baik daripada rutin mengirimkan bantuan sembako. Namun kepada KK miskin permanen akan tetap kita berikan sembako,”  ujar Bupati asal Nusa Ceningan ini.

Dalam Bedah desa ini, Bupati Suwirta juga mendata warga yang selanjutnya akan mendapatkan bantuan bedah rumah dan rehab rumah serta bantuan pembangunan dapur dan kamar mandi cuci kakus (MCK). (dar)