Denpasar (Bisnis Bali) – Bali termasuk daerah yang juga akan menerapkan digitalisasi bagi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Bali memiliki target 189 SPBU yang akan masuk digitalisasi.

“Seluruhnya telah disurvai 100 persen dan hingga saat ini tercatat sebanyak 34 SPBU telah diinstalasi cabling di area kantor dan dispenser,” kata Section Communcation and Relations Pertamina MOR V Rico Raspati saat dihubungi, Senin (18/2).

Menurutnya, ada beberapa daerah SPBU yang siap go digital seperti Barakuda, Kalisakti, Umanis, Gianyar, Singaraja hingga Tabanan. Diharapkan dengan SPBU go digital maka ke depannya akan makin efektif dalam hal pemantauan stok BBM realtime di SPBU.

“SPBU yang digitalisasi ada biaya namun seluruh biaya ini menjadi tanggungan Pertamina,” ujarnya.

Manfaat lainnya bagi masyarakat karena sistem pembayaran yang cashless maka akan memudahkan masyarakat dalam bertaransaksi tanpa perlu membawa uang secara fisik tunai. Saat ini kata Rico, transaksi masyarakat bisa menggunakan uang elektronik (e-money) namun tidak menutup kemungkinan ke depan akan muncul skema transaksi lain yang lebih mudah dan canggih.

“Target SPBU digital sampai Juni 2019 dan pencapaian saat ini sudah hampir 20 persen,” jelasnya.

Seperti diinformasikan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menargetkan seluruh SPBU digital. Melalui digitalisasi ini maka semua arus data masuk-keluar BBM di outlet-otlet SPBU seluruh Indonesia akan tercatat secara real time. Proses dilakukan dengan cara memasang perangkat digital pada kran penyaluran BBM ke kendaraan (nozzle) sehingga jumlah BBM yang terjual dapat tercatat secara akurat.

Data tersebut diakui akan terhubung ke pusat data Pertamina sehingga SPBU yang sudah minim stoknya akan terpantau secara otomatis. Bagi Pertamina manfaat tersebut akan menjadi peringatan untuk segera dilakukan pengiriman. Tujuannya pelayanan ke masyarakat akan makin meningkat dan meneka potensi terjadinya kelangkaan BBM yang menyebabkan atrean.*dik