Upsus Siwab Tambah 75 Ribu Populasi Sapi Bali

Denpasar (Bisnis Bali) – Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upus Siwab) dipastikan tahun ini (2019) akan ada 75.000 ekor kelahiran anak sapi. Program yang menggunakan inseminasi buatan (IB) pada sapi betina ini tentunya akan menambah jumlah populasi sapi Bali.

Kepala Bidang Pembibitan dan Produksi Ternak, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Bali drh. IKG Nata Kesuma, MMA mengatakan, tahun ini 93.000 ekor sapi betina di IB, dipastikan akan melahirkan 75.000 anak sapi. Namun pihaknya menargetkan 80.000 anak sapi yang lahir tahun ini dari 93.000 induk sapi yang di-IB.  Dengan demikian, dari 526.000 populasi yang tercatat saat ini membuat populasi sapi Bali akan terus bertambah.

Dipaparkannya, secara keseluruhan pada 2018 populasi sapi Bali meningkat, dari 507.000 ekor pada 2017 menjadi 526.000 ekor pada 2018. Semua sapi tersebut adalah sapi asli Bali yang merupakan plasma nutfah. “Semua sapi Bali, tidak ada sapi dari luar Bali karena Perda 10 tahun 2017 mengamanatkan tentang pengelolaan sapi Bali dan pelestarian plasma nutfah,” ujarnya saat ditemui di ruangannya belum lama ini.

Dari IB yang dilakukan pada 2017, lahir 50.000 ekor anak sapi pada 2018. Pada 2019 diperkirakan anak sapi yang lahir meningkat. Selain dari hasil IB yang akan melahirkan 75.000 ekor anak sapi, akan ada tambahan populasi juga dari hasil perkawinan alami sapi. “Dengan tambahan populasi, otomatis dapat meningkatkan jumlah sapi yang dipotong khususnya sapi jantan. Dengan tambahan sapi yang bisa dipotong berarti makin banyak yang bisa dijual, yang ujung-ujungnya meningkatkan kesejahteraan petani,” terangnya.

Untuk memperkuat populasi sapi, khususnya sapi Bali, sapi betina produktif tidak boleh dipotong. Ini diatur dalam UU nomor 41 tahun 2014. Sapi betina yang sudah beranak hingga 8 kali dikatakannya boleh dilakukan pemotongan, karena secara fisik sudah tidak produktif, dan ada gangguan reproduksi. “Memang amanat UU dilarang melakukan pemotongan sapi betina produktif. Bukan di Bali saja tetapi di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Selain menjaga populasi sapi, menurutnya, pentingnya melakukan seleksi pembibitan, dan mengetahui dengan jelas asal usul sapi betina itu, karena dengan demikian nilainya bisa mahal. “Pendataan silsilah pada sapi menjadi sebuah kebutuhan. Dengan tahu silsilah, sapinya unggul, orang akan tertarik membeli sapi yang sudah jelas,” imbuhnya. (wid)