Budi Daya Jeruk Keprok Prospektif

JERUK merupakan jenis buah yang banyak penggemarnya karena kaya akan vitamin C dengan rasa asam manis. Salah satu jenis jeruk yang disukai konsumen sehingga banyak dibudidayakan adalah jeruk keprok.

Jeruk keprok banyak peminatnya karena memiliki ciri fisik berkulit tipis dengan rasa dominan manis. Ketut Sueta, petani jeruk asal Petang, Kabupaten Badung mengatakan, permintaan jeruk keprok lebih tinggi dari jenis jeruk lainnya. “Jeruk pada umumnya dapat ditanam mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi, tergantung dari varietasnya. Iklim yang baik untuk menanam jeruk adalah yang mempunyai suhu 13-35 °C dengan curah hujan antara 1.000-3.000 mm/tahun,” tuturnya kepada Bisnis Bali, Minggu (17/2) kemarin. Tanaman jeruk membutuhkan pH tanah  berkisar 5-8.

Memilih bibit jeruk sebaiknya dari cangkok atau okulasi agar lebih cepat berbuah. “Kalau bibit dari biji hasilnya belum tentu sama dengan induknya. Bibit dari biji bisa saja menyimpang dari induknya sehingga hasil buahnya kecil dan rasangan asam. Makanya, lebih baik memilih bibit dari cangkok atau okulasi,” tandasnya.

Setelah memilih bibit, untuk memulai menanam jeruk keprok, pertama yang harus dilakukan adalah membuat lubang tanam  dengan  ukuran  panjang, lebar dan kedalaman 60 x60 x60 cm, dan jarak antarlubang tanam 5×4 meter. Menanam bibit jeruk sebaiknya pada awal musim hujan, karena kondisi air dan kelembaban udara sangat mendukung untuk pertumbuhan jeruk pada awal tahun.

“Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perawatan tanaman jeruk yaitu pengairan dan pemupukan. Untuk tanaman jeruk, dibutuhkan drainase yang baik karena akan membantu perkembangan akar sehingga tidak terjadi pembusukan akar, sedangkan kekurangan air mempengaruhi pertumbuhan vegetatif, sehingga pada saat pembungaan dan pembesaran buah kebutuhan air harus tercukupi,” tandasnya.

Selain kebutuhan air, kebutuhan nutrisi juga harus diperhatikan agar tanaman jeruk berbuah lebat. “Pemupukan harus diperhatikan adalah unsur makro primer seperti N, P, K dan unsur makro sekunder yakni Ca, Mg, dan belerang. Unsur makro dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit, tapi bila kekurangan akan mempengaruhi produksi dan kelangsungan hidup tanaman,” terangnya. Unsur makro tersebut antara lain B, Fe, Zn, Mn, dan Cu. Pada fase menjelang pertunasan sebelum pembungaan, diperlukan nitrogen berupa urea. Lalu fosfor berupa SP-36 diperlukan pada saat menjelang pembungaan dan pemasakan buah serta kalium berupa KCl dibutuhkan setelah fase pertunasan menjelang pembungaan. Takarannya pada tanaman dewasa ditentukan berdasarkan produksi buah, jadi perbandingannya N : P2 : 05 : K2O = 2 :1:2.

Hal lain yang perlu dilakukan untuk perawatan tanaman jeruk adalah pemangkasan bentuk dilakukan pada tanaman yang belum produksi  biasanya sampai umur 3 tahun. Tujuannya untuk membentuk struktur percabangan tanaman yang diinginkan. Bentuk yang ideal adalah mengikuti format 1-3-9. Pemangkasan pemeliharaan, dilakukan pada tanaman yang sudah produktif yaitu di atas 3 tahun. Pemangkasan dilakukan sesudah panen. Pemangkasan ini bertujuan untuk mempertahankan iklim mikro di sekitar tanaman dan meningkatkan umur produktif tanaman. (pur)