Berbisnis Properti Perlu ’’Feeling’’ dan Rasional

Denpasar (Bisnis Bali) – Berbisnis properti banyak yang meyakini banyak manfaatnya di masa depan. Selain harga properti berpotensi naik signifikan, produk properti sebagai sarana investasi juga tak kedaluwarsa. Namun demikian agar tepat sasaran investor tetap harus berdasar feeling dan rasional bertindak guna menghindari risiko kerugian. Demkian pengamat properti, Bagio Utomo, Minggu (17/2).

Dikatakan, sikap rasional penting dalam menentukan jenis properti apa, lokasi di mana, dan pertimbangan fisik lainnya atas produk properti yang dibeli. Karena itu sikap tak gegabah dalam memutuskan membeli produk properti untuk investasi merupakan hal penting. Di Bali khususnya dimana pencitraan atas prospek investasi properti yang positif dan luar biasa, merupakan kekuatan yang melatarbelakangi investor untuk percaya membelanjakan uang mereka dengan membeli produk properti. Khususnya properti menengah atas yang memiliki daya tarik tersendiri karena umumnya cenderung dibangun di daerah pariwisata.

Kini menurutnya, selektivitas pemasok dengan konsumen properti sama – sama tinggi. Ini positif dalam menjaga iklim bisnis yang sehat sehingga investasi properti di Bali khususnya takkan kalah ramai sebagaimana di daerah lainnya di Indonesia.

Mengutip liputan6.com dari rumah.com, sebagai instrumen investasi riil, properti selalu dikaitkan dengan unsur fleksibilitas, keuntungan tinggi, serta minim risiko. Berlatar belakang kelebihan ini, tak heran jika para pengusaha, pebisnis, maupun masyarakat kelas atas selalu merasa tertantang untuk berinvestasi di sektor properti dibanding jenis investasi lainnya seperti emas, saham, atau obligasi.

Meski demikian, modal materi saja belum tentu cukup untuk menggeluti bisnis ini. Piawai dalam menyusun strategi dan rutin mengikuti perubahan pasar adalah salah satu di antara sejumlah modal utama yang diperlukan. Begitu pun prinsip yang dianut Yagimin, investor properti yang juga menjabat sebagai Marketing Division Head AUTO 2000.

Dalam berbisnis properti, ia menggabungkan antara feeling dengan logika. “Investasi ini sekali dicoba, bikin nagih. Dan selama punya kemampuan kenapa tidak. Tapi tetap tidak bisa sembarangan dalam menanamkan modal di suatu properti. Seorang investor dituntut harus bisa membaca future development di lokasi properti tersebut seperti apa, lalu upayakan diri untuk update informasi-informasi seputar pasar properti,” ujarnya.

Investasi properti di mata Yagimin, menjadi satu hal penting dalam hidupnya karena ada aset yang berkembang di samping menghasilkan passive income.
Berbeda hal dengan menyimpan uang di bank maupun obligasi yang sarat akan risiko, properti merupakan instrumen investasi yang ideal diikuti kenaikan harga signifikan serta tidak adanya masa kadaluarsa.

Saat ini properti di Indonesia, baginya, masih cukup menarik utamanya di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. “Lebih spesifik lagi yang masih punya banyak peluang tentunya kawasan bisnis Jakarta seperti Kuningan. Sebentar lagi LRT akan masuk ke koridor ini, dan otomatis properti sekitar semakin prestisius. Bisa dibayangkan berapa besar benefit yang ada, sebab sekarang saja tinggal di Kuningan sudah lekat dengan kesan elit, nah ini akan di atasnya level itu,” ia menuturkan. (gun)