Denpasar (Bisnis Bali) – Kehadiran media sosial (medsos) sebagai medium berinteraksi di dunia maya saat ini tak sebatas untuk berkomunikasi. Namun, kian produktif dan bermanfaat dalam pengembangan ekonomi kreatif. Tren media sosial juga melahirkan beragam profesi baru yang bisa dilakukan secara mobile, efektif dan efesien. Sebagai penyumbang pengangguran terbesar saat ini di Indonesia, sudah seharusnya calon sarjana kreatif dan inovatif dalam optimalisasi medsos agar tak sebatas sebagai ruang bersosialisasi.

“Tren profesi saat ini bagi milenial sudah beragam dan bervariasi. Banyak pilihan untuk menentukan pekerjaan. Tak harus kerja kantoran atau pegawai. Jika kreatif dan mau mencoba, media sosial menjadi lahan penghasilan yang menggiurkan,” kata Ketua DPP PERADAH Indonesia Bali I Komang Agus Widiantara, M.IKom, di sela pelatihan sehari kegiatan kewirausahaan, Jumat (15/2) di Denpasar.

Acara yang bertajuk “Pemasyarakatan Kewirausahaan dalam Rangka Penumbuhan Kewirausahaan” tersebut digagas oleh DPP PERADAH Indonesia Bali bekerja sama dengan DPN PERADAH Indonesia yang didukung penuh oleh Kementrian Koperasi dan UMKM RI.

Pelatihan kewirausahaan tersebut dihadiri oleh 100 mahasiswa lintas perguruan tinggi yang ada di Denpasar. Lebih jauh, Agus Widiantara menambahkan tujuan dari kegiatan tersebut untuk membangun mindset mahasiswa dalam dunia wirausaha. Menurutnya, selama ini pelaku usaha pemula selalu berorientasi modal sehingga buntu dalam menjalankan usaha. Padahal, kata pemuda yang juga menekuni usaha wedding organizer tersebut, untuk membuka usaha, modal memang penting namun tidak utama. Mentalitas menjadi kunci agar usaha yang dilakukan bisa berjalan.

Ia juga menilai, para mahasiswa setelah menjadi sarjana juga lebih berorientasi sebagai pencari kerja (job seeker) ketimbang menciptakan lapangan kerja (job creater). Hal ini dipengaruhi karena mindset mahasiswa sejak duduk kuliah terlalu kaku dan baku memimpikan pekerjaan tertentu. “Di samping mental priayi, juga cenderung obsesi kerja kantoran. Di samping pengaruh orang tua,” tambahnya.

Selain mindset, alumni IHDN Denpasar ini juga mengingatkan agar mahasiswa melatih diri memiliki skill berjualan atau merancang produk. Kemudian bisa mengeksekusi usaha mulai dengan sederhana. “Rugi memiliki mindset dan skill bagus, jikalau takut mengeksekusi,” pungkasnya.

Sementara itu Asisten Deputi Standar Disasi dan Sertifikasi SDM KUMKM Kemenkop RI Sentosa menjelaskan mindset menjadi perihal penting dalam membangun mental wirausaha Pemuda sejak dini. Menurutnya, tren penganguran di Indonesia saat dini didominasi oleh kalangan terdidik. Pihaknya mendorong agar mahasiswa berani mencoba sebagai entrepreneur melalui usaha dengan skala kecil. “Industri revolusi mendorong kita untuk mandiri saat ini. Menjadi PNS dan pegawai tak seperti zaman dulu lagi, serba enak. Sekarang sudah berbeda. Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman,” tegasnya. Hadir pula pada kesempatan tersebut Dinas Koperasi dan UMKM Kota Denpasar dan Provinsi Bali serta pelaku wirausaha muda Ida Ayu Made Purnamaningsih.

Dalam pelatihan, peserta berharap agar pemerintah di daerah serius merancaag program kewirausahaan untuk menyasar mahasiswa. Baik dari hulu ke hilir. Hal itu penting untuk membangun ekosistem entrepreneur. tidak sebatas pada program pelatihan, namun juga akses permodalan, mentoring usaha hingga akses pasar.*wid