Amlapura (Bisnis Bali) – Menjadi tuking ukir atau perajin ukiran, prospeknya cukup bagus, guna mengurangi jumlah pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan perajin. Dalam rangka memotivasi kerajinan ukiran, pihak Desa Abang dengan menggunakan anggaran dana desa sudah melakukan pelatihan mengukir.

Hal itu disampaikan Perbekel Desa Abang, Karangasem, I Nyoman Sutirtayana, Rabu (13/2) kemarin. Menurutnya, selama ini tukang ukir di desanya agak kurang peminat, padahal tukang ukir tergolong profesi seniman dan cukup langka. Sementara, kerap tukang ukir atau perajin yang membuka usaha ukiran, kewalahan melayani pesanan.

Menurut Sutirtayana, yang sudah pintar mengukir dan ulet serta teliti, sehari bekerja mengukir Rp 100 ribu pendapatan sudah di tangan. Bekerja agak santai di rumah sendiri, sembari mendengarkan radio atau memutar musik.  ‘’Di desa kami masih agak jarang yang mau menggeluti profesi sebagai tukang ukir, dibandingkan sebagai petani. Karena itu, kami berikan motivasi dengan sistem penguatan atau stimulus. Perajin kami berikan pelatihan, di samping diberikan seperangkat alat ukir. Tujuannya agar mereka lebih produktif dan lebih bersemangat bekerja, dan bila perlu mau melatih atau menggandeng pemuda lainnya untuk menggeluti kerajinan ukiran. Anggaran pelatihan selama lima kali pertemuan dan bantuan alat ukir dari anggaran desa tahun 2018,’’ paparnya.

Diakui Sutirtayana,  cukup banyak ada pengusaha atau perajinan ukiran terutama ukiran sanggah yang membuka usaha di wilayah Desa Abang. Usaha pembuatan sanggah berukir itu, berjejer di pinggir jalan nasional di wilayah Desa Abang. Mereka, pengusaha ukiran dan pencetakan sanggah itu, nyaris tak ada warga asli Desa Abang. Namun dari desa tetangga, seperti dari Banjar Batumadeg, Desa Tista, dari Desa Tribuana Kecamatan Abang. ‘’Paling banyak pengusaha kerajinan membuat sanggah itu justeru dari Banjar Batumadeg,’’ katanya.

Diakui warganya beberapa hanya sebagai pekerja atau karyawan atau hanya menerima pesanan membuat ukiran dari pengusaha tukang sanggah. Mereka menerima pesanan ukiran untuk sanggah, setelah selesai, disetor kepada tukang sanggah. Selama ini, tukang ukir dari Desa Abang, bekerja terpisah dan bekerja membuat pesanan ukiran dari rumah masing-masing. Terkait pelatihan yang digelar beberapa waktu lalu, mereka dihimpun dalam satu wadah tukang ukir ‘’Karya Winangun.’’ Dulu, lanjut Sutirtayana, 10 orang perajin ukiran dari Desa Abang itu, bekerja sendiri. Kini setelah dihimpun, mereka saling bekerja sama. ‘’Jika satu orang mendapatkan pesanan ukiran yang lebih dan kewalahan melayani, mereka bersepakat membagi bekerjaan, melimpahkan sebagian order atau pesanan orang kepada rekan lainnya. Di samping itu, tarif pekerjaan seni mengukir itu juga bisa disepakati, sehingga tidak ada yang saling banting harga yang pada akhirnya berakibat merugikan,’’ paparnya.

Di lain pihak, Ketua Kelompok Ukir Karya Winangun, Wayan Daging mengatakan, sangat bermanfaat kegiatan pelatihan dan penguatan tukang ukir di desanya yang digagas Perbekel Abang Nyoman Sutirtayana. Selain dilatih, juga dibantu modal berupa peralatan mengukir.

Wayan Daging mengatakan, pihaknya siap dan mau melatih barang siapa ada pemuda yang hendak belajar mengukir di desanya di Abang. Tujuannya, selain dalam rangka mengajegkan Bali lewat seni ukir dan bila perlu seni ukir dengan patra khas Bali, serta dalam rangka mengurangi pengangguran lewat keterampilan yang potensial mampu membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan keluarga sendiri.

Dia mengakui kalau selama ini, seringkali tukang ukir kewalahan dalam melayani pesanan ukiran berbagai jenis, seperti sanggah atau pun jaro atau hiasan rumah atau balai dangin, balai bengong. Belakangan ini sedang ngetren rumah stil bali atau pun membuat balai bengong. ‘’Pesanan ukiran itu lumayan banyak. Saya sendiri sering juga kewalahan, sehingga harus antri dan mohon pemesan bersabar. Asalkan menjadi tukang ukir itu ulet, sabar bekerja atau disiplin, hasilnya lumayan. Bekerjanya juga bisa di rumah sendiri,’’ tandas Wayan Daging. (bud)