Mangupura (Bisnis Bali) – Pengenaan pungutan kontribusi wisatawan 10 dolar AS sangat sulit diterapkan dan perlu proses panjang. Pungutan 10 dolar AS ini bisa dimasukkan ke dalam komponen tiket masuk objek wisata.

Konsul Kehormatan Rusia untuk Bali, Chairul Nuku Kamka, Rabu (13/2) mengatakan, Pemprov Bali untuk memungut dana pelestarian budaya patut mendapatkan dukungan masyarakat pelaku pariwisata dan pemerintah kabupaten/kota.

Ia menjelaskan, dana pungutan kontribusi wisatawan ini sangat penting untuk kelestarian lingkungan dan budaya Bali. Hal ini guna menjaga keberlanjutan pariwisata Bali yang berbasiskan pariwisata budaya.

Dipaparkannya, pungutan kontribusi wisatawan 10 dolar tidak harus dipungut di bandara atau di hotel. Pungutan kontribusi wisatawan ini juga bisa dipungut di objek wisata.

Lebih lanjut Nuku Kamka mengatakan, kontribusi wisatawan yang dipungut di objek wisata tidak harus 10 dolar AS. Kontribusi wisatawan bisa dimasukkan dalam komponen tiket masuk objek wisata sesuai yang disepakati dan ditetapkan dalam perda.

Nilai pungutan kontribusi wisatawan ini harus menyesuaikan dengan kondisi objek wisata. Salah satu contoh tiket masuk objek wisata dikenakan Rp 30.000 per orang sudah termauk pungutan kontribusi wisatawan.

Menurutnya, Pemprov Bali sangat mudah untuk memungut pungutan kontribusi wisatawan jika dilakukan di objek wisata. Hal ini tentunya perlu didukung  perda yang mengatur di dalamnya.

Ia menegaskan, komponen dana pungutan kotribusi wisatawan melalui objek wisata harus dikelola oleh pemerintah kabupaten/kota dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi.  Selanjutnya hasil pemungutan pungutan kontribusi wisatawan harus digunakan untuk pelestarian lingkungan dan pelestarian budaya.

Nuku Kamka menambahkan, dengan dipungut di objek wisata, pegelola objek dituntut untuk meningkatkan kualitas layanan dan tampilan objek wisata. Hasil pemungutan kontribusi wisatawan juga harus diprioritaskan untuk pelestarian lingkungan dan pelestarian budaya di objek wisata tersebut. (kup)