Denpasar (Bisnis Bali) – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di sektor produktif masih terbuka lebar di Bali, ditambah lagi rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) tergolong sangat kecil. Ini pula melatari BRI pada 2019 ini akan menggencarkan KUR ke sektor produktif.

“KUR sektor produktif tahun ini kita genjot menjadi 60 persen dari tahun sebelumnya didominasi sektor perdagangan,” kata Pemimpin PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Denpasar, Dedi Sunardi di Renon, Senin sore. Ia didampingi empat Wakil Pemimpin Wilayah yakni Karya Sitepu Rumah Mbelin, Dwi Harsono, Huru Priyono Ambarwito, Hery Santoso.

Dedi menjelaskan, bila dibandingkan tahun lalu di mana KUR sektor perdagangan 58 persen dan produktif 42 persen, maka tahun ini di balik sektor produktif 60 persen dan perdagangan 40 persen. Sektor produktif lebih ditingkatkan mengingat peluang di sektor pertanian dna perkebunan masih belum tergarap optimal.

Pihaknya pun optimis KUR lebih menyasar sektor produktif bisa terpenuhi apalagi bank BUMN ini dari sisi target penyaluran Bali Nusra pada 2019 untuk KUR kecil mencapai Rp903,2 miliar  dan mikro Rp3,9 triliun.

Agar sektor produktif bisa terjangkau lebih banyak, Dedi menjelaskan bank sudah bekerja sama dengan Dinas Pertanian Provinsi agar bisa terhubung dengan pengusaha baik itu yang bekerja sama dalam bentuk subak atau asosiasi kecil. Termasuk berkolaborasi dengan badan yang dibentuk pemerintah terkait Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 terkait Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali.

“Melalui Pergub tersebut secara otomatis akan mempengaruhi sektor produktif seperti pertanian dan perkebunan di Bali akan makin meningkat,” jelasnya.

Upaya lain memastikan dan memonitor terhadap segmentasi kepastian pemberian KUR tepat masuk sektor produktif (pertanian), tidak lagi general ke perdagangan.

“Sektor produktif dari hulu ke hilir sehingga kepastian segmentasi harus benar,” ucapnya.

Itu penting karena sektor produktif tentu sistem pembayaran tidak sama dengan perdagangan. Dicontohkannya, sector pertanian tentu cara pembayaran tidak sama dengan perdagangan. Petani 4 bulan baru panen sehingga tidak mungkin bayar bulanan.

Sektor produktif di Bali akan mengarah seperti perkebunan yang cukup potensial yakni kakao/cokelat, cengkih, kopi, jeruk dan salak. Sementara khusus untuk di Nusa Tenggara Barat dan Timur penyaluran KUR akan lebih fokus ke sektor pertanian dan peternakan. Dia akan mengupayakan proporsi lebih tinggi di sektor produktif tersebut di setiap provinsi akan tercapai.

Dedi pun menyampaikan bila melihat realisasi penyaluran KUR pada 2018 cukup mengembirakan yaitu total mencapai Rp5,4 triliun yang terbagi KUR kecil Rp830,1 miliar dan mikro Rp4,6 triliun.

“Secara nasional target penyaluran KUR 2018 mencapai Rp 100 triliun dan pada Oktober kuota telah terpenuhi,” ucapnya.*dik