LUKISAN - Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, Gou Hao Dong didampingi Co-founder Museum Pasifika, beserta manajemen ITDC saat menjelaskan beberapa lukisan koleksi Museum Pasifika.

Mangupura (Bisnis Bali) – Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, Gou Hao Dong bersama rombongan dalam rangkaian liburan perayaan Imlek berkesempatan mengunjungi Museum Pasifika kawasan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Nusa Dua, Jumat (8/2).

Direktur Konstruksi dan Operasi ITDC, Ngurah Wirawan mengatakan, melalui kunjungan tersebut, ITDC akan bersinergi dengan Konjen Tiongkok guna menarik minat wisatawan berkunjung Bali dan kawasan Nusa Dua pada khususnya.
Ngurah Wirawan menyatakan, dampak dari kunjungan Konjen Tiongkok akan disinergikan program ITDC untuk menarik minat wisatawan dari Negeri Tirai Bambu ke Bali. “Kami berharap potensi daya tarik Nusa Dua termasuk koleksi dan kehadiran Museum Pasifika ini bisa memberikan kontribusi kehadiran wisatawan ke Nusa Dua,” katanya.

Melalui komunikasi ITDC dengan Konjen Gou Hao Dong juga menyampaikan akan mempromosikan Museum Pasifika dan Nusa Dua kepada wisatawan Cina. ITDC tentu berharap akan ada peningkatan kunjungan wisatawan Cina berkualitas ke Nusa Dua.

ITDC tentunya berupaya memberikan hiburan dan suasana nyaman bagi wisatawan Cina yang berkunjung dan menginap di Nusa Dua. Dengan berbagai daya tarik termasuk Museum Pasifika wisatawan Cina diharapkan mendapatkan pengalaman unik di Nusa Dua. “Saat ini, hampir 25 persen wisatawan mancanegara berkunjung dan menginap di Nusa Dua merupakan wisatawan Cina,” kata Ngurah Wirawan.

Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, Gou Hao Dong saat mengunjungi Museum Pasifika menyampaikan sebelum bertugas di Bali, ia ditugaskan di sejumlah negara, di antaranya Afrika, Australia dan Timur Tengah. “Museum Pasifika di Nusa Dua ini sangat menarik karena menampilkan kesenian dari berbagai negara,” katanya.
Sebagai satunya-satunya Museum Seni Asia Pasifik terbesar saat ini di wilayah Asia Pasifik, yang memiliki koleksi lebih dari 600 karya seni (terutama koleksi berupa lukisan) 200 artis dari 25 negara. Museum Pasifika juga memiliki koleksi dari pelukis-pelukis Tiongkok, diantaranya adalah Chen Zhen (1955- 2000), Lin Feng Mian (1900-1991), Liu Oixiang (1901 -1998), Zao Wou Ki (1920-2013).
Bernard Buttet (pelukis Prancis) juga membuat beberapa lukisan bertemakan kebudayaan Negeri Tirai Bambu diantaranya berjudul “La Temple de Lamas” yang dibuat di tahun 1995, juga lukisan “La Villa Camelia et le Fuji” dan lukisan “la Couns de la Paix”.
Gou Hao Dong ditemani oleh Co-founder Museum Pasifika, Philippe Augier berkeliling ke sebelas ruangan yang ada di museum tersebut.

Philippe menceritakan tentang latar belakang dipilihnya Bali sebagai tempat berdirinya Museum Pasifika. Ini dikarenakan Bali adalah tempat bertemunya 2 kebudayaan yang besar yaitu Asia dan Pasifik. Museum Pasifika, yang dibuka untuk umum pada 8 Agustus 2016, sebagai wadah menampung karya-karya seni berkelas dunia dan berstandar internasional, tidak hanya menampilkan koleksi dari para seniman dari Eropa. “Ada beberapa sudah mempunyai nama di kancah internasional seperti Paul Gauguin (Prancis), Le Mayeur (Belgia), Theo Meier (Swiss), Andre Maire (Prancis), Miguel Covarrubias (Meksiko) dan beberapa nama lainnya,” tambah Philippe. (kup)