Singaraja (Bisnis Bali) – Sejumlah perajin tenun ikat (songket) di Desa Jinengdalem mengaku mulai kewalahan melayani permintaan atau pesanan pasar juga pengepul yang terus meningkat sementara kemampuan produksi terbatas.

Kendalanya selain ada pada tenaga kerja untuk membantu melakukan beberapa tahapan proses pembuatan tenun songket yang masih terbatas, juga dikarenakan cuaca yang belakangan ini cenderung hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Dengan kondisi itu perajin tenun songket tidak dapat berproduksi maksimal lantaran bahan baku seperti benang yang membutuhkan cahaya yang maksimal agar bisa diproses menjadi songket. “Kalau benang setengah kering itu susah untuk menenunnya terkadang hasil tenunan bisa tidak bagus,”jelas Ketut Sakrianing salah seorang perajin tenun songket baru – baru ini.

Sakrianing menjelaskan jika cuaca tidak bersahabat ia mengaku hanya bisa memproduksi satu pcs songket saja. Itu mempengaruhi pendapatannya yang tak tentu  tiap bulan.

Desa Jinengdalem memiliki warisan budaya yang adiluhung salah satunya kain tenun ikat songket ini. Sakrianing merupakan salah satu dari sekian banyaknya perajin tenun ikat di Desa Jinengdalem. Ia mengaku memiliki bakat menenun secara turun-temurun yang diwarisi dari orangtuanya. Sementara ketersedian bahan baku seperti benang ia mengaku hingga saat ini tidak menjadi kendala. (ira)