Produksi Salak Turun, Petani kembali Tekuni Kolang-kaling

Amlapura (Bisnis Bali) – Produksi salak tahun ini sedikit atau menurun dibandingkan dua atau tiga tahun lalu. Selain karena musim jeda, hal ini diduga dampak dari hujan abu erupsi Gunung Agung tahun lalu yang menyebabkan banyak pohon salak tidak berbuah. Karena produksi buah salak pada musim ini menurun, ada pebisnis salak yang beralih menekuni bisnis buah kolang-kaling atau buah enau yang dikenal dengan nama beluluk.

Salah seorang pengepul salak, I Nyoman Putra Tenaya (41) asal Selat, Karangasem saat dihubungi beberapa hari lalu mengatakan, produksi salak tahun ini agak sepi atau produksinya turun. Awal Februari ini sebenarnya puncak musim panen. Namun, jumlah produksi sudah tidak banyak. ‘’Karena musim salak saat ini sepi atau produksinya turun,  kami kembali berusaha kolang-kaling. Kalau tahun sebelumnya, bisnis kolang kaling atau buah enau yang diolah menjadi campuran es buah atau es campur, kami tinggalkan. Saat itu, kami sibuk dan kewalahan membeli dan menyalurkan buah salak,’’ paparnya.

Dari pantauan di pasar tradisional di Karangasem, harga buah salak biasa per kg berkisar Rp 4 ribu sampai Rp 6 ribu. Sementara yang ukuran lebih kecil Rp 3 ribu. Di tingkat petani, harga buah salak Rp 2.500 sampai Rp 3.000 per kg. Salak gula pasir di pasar Karangsokong Subagan, berkisar Rp 15 ribu.

Soal bisnis beluluk, kata Putra Tenaya, dia tekuni kembali, setelah lama ditinggalkan. Terakhir dia membeli dan mengolah buah enau itu sejak lima tahun lalu. Sebelumnya, tahun 1999 dia juga sudah sempat mengolah beluluk, tetapi kemudian ditinggalkan, karena kewalahan menangani buah salak pada musim panen.

Pria asal Desa Geriana Kangin, Selat ini mengatakan, bisnis mengolah beluluk juga potensial. Keuntungannya lumayan untuk ukuran usaha kecil di desanya. Per kg, kolang-kaling yang sudah jadi dijual setidaknya ke empat pelanggan di Denpasar. Kolang-kaling laku dijual Rp 5 ribu sampai 7 ribu per kg.  Per pelanggan bisa memesan sedikitnya 50 kg kolang-kaling. Dia mempekerjakan empat orang untuk memanen dan mengolah kolang-kaling per hari dapat 100 kg. (bud)