Denpasar (Bisnis Bali) – Program pungutan kontribusi 10 dolar AS untuk wisatawan mancanegara (wisman) memiliki tujuan baik untuk pelestarian lingkungan dan budaya Bali. Jika pos pemungutan tidak jelas, pungutan 10 dolar AS ini dimasukkan ke pos airport tax sebagai bagian pajak pariwisata yang dikelola secara otonomi Pemprov Bali.

Konsul Kehormatan Rusia untuk Bali, Chairul Nuku Kamka, Selasa (5/2) mengatakan, program pungutan 10 dolar AS ini sangat bagus. Hanya saja dalam teknis dasar hukum penerapannya harus melibatkan pemerintah pusat melalui kementerian terkait.

Ia menjelaskan, Pemprov Bali dapat mendorong Kementerian Pariwisata untuk kembali menggeliatkan penerapan airport tax. Jika pungutan 10 dolar AS ini diberlakukan di hotel atau di maskapai akan sangat sulit penerapan di lapangan.

Wisatawan kecenderungan datang mendadak berlibur ke Bali. Mereka memesan kamar online termasuk one sport. “Booking kamar langsung saat di Bali sulit dikenakan pungutan 10 dolar AS,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, pasar pariwisata internasional akan meminta pungutan 10 dolar AS berlaku untuk Indonesia bukan hanya semata untuk Bali. Untuk itu perlu diperjuangkan otonomi khusus untuk Bali dalam pelestarian lingkungan dan budaya Bali.

Ia mengatakan, pungutan 10 dolar AS perlu pos yang jelas. Jika dipungut airport tax di Bali maka airport lain akan meminta hak sama untuk memungut airport tax. Nuku Kamka menegaskan, pemungutan kontribusi 10 dolar AS dalam pajak pariwisata ini dibuat dalam pos airport tax khusus otonomi Bali. Airport tax ini bisa ditempel di tiket pesawat dipungut untuk tujuan jelas guna kelestarian lingkungan dan budaya Bali. (kup)