Perawatan kecantikan yang dilakukan di salah satu klinik di Denpasar.

KULIT putih masih menjadi idaman masyarakat di Indonesia, khususnya Bali saat ini. Hal ini mendorong berbagai inovasi diciptakan untuk memenuhi permintaan tersebut. Tidak jarang cara instasn pun dipilih oleh konsumen dengan hasil cepat, namun tidak memikirkan efek samping yang ditimbulkan.

Spesialis kulit dan kelamin, dr. Irene Tantia Utami, M.Kes, Sp.KK, saat ditemui, Senin (28/1) mengatakan, dewasa ini cukup banyak pasien yang datang dengan keluhan kerusakan kulit. Salah satu hal penyebabnya yaitu dikarenakan keseringan konsumen menggunakan produk dengan kandungan steroid tinggi.

“Penggunaan steroid dengan dosis tingi menyebabkan kerutan seperti selulit pada kulit dan ini sangat sulit untuk ditangani,” terangnya.

Gaya hidup masyarakat yang saat ini cenderung menginginkan hal praktis mendorong tindakan tersebut terjadi. Terlebih lagi banyak masyarakat yang membeli krim pemutih secara online yang belum bisa dipastikan keamanannya.

Penggunaan streroid dengan dosis tinggi yang biasanya banyak di lotion pemutih, menurutnya memang memberikan efek cepat pada kulit. Namun penggunaan yang terlalu lama memberikan efek buruk pada kesehatan kulit.

“Jika sudah terjadi kerusakan terlebih lagi selulit pada kulit (kaki dan tangan) penyembuhan bisa dilakukan hanya 70 persen,” ungkapnya.

Penggunaan steroid ini memang dilakukan dengan dunia kedoteran, namun dengan dosis yang sesuai kebutuhan pasien. Dan penggunaan steroid ini dikatakan, lebih kepada pengobatan, bukan untuk kulit yang sehat.

Selain itu, ada banyak pula dampak yang banyak dirasakan masyarakat saat ini akibat kurang tepatnya memilih krim untuk kulit, seperti halnya kemerahan berlebih pada wajah.  Untuk itu, dr.Irene mengharapkan masyarakat bisa cerdas memilih kosmetik ataupun krim untuk kulit.

Selain berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang dalam bidangnya untuk pemilihan produk, konsumen juga diharapkan memperhatikan kelegalan produk apakah sudah berijin atau belum. “Hasil observasi selama ini, kebanyakan masyarakat ikut-ikutan teman dalam pemilih produk. Ini seharusnya tidak boleh terjadi, karena jenis kulit seseorang berbeda demikian juga kebutuhannya akan berbeda pula,” tutupnya. (wid)