Wisman tetap Ramai ke Besakih

Amlapura (Bisnis Bali) – Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) melihat objek daya tarik Besakih masih cukup ramai. Januari ini, wisman yang berkunjung sekitar 300 orang. Sejumlah wisman juga kerap nekat mendaki gunung yang status gejolaknya masih siaga itu.  Empat orang Wisman, nekat mendaki Gunung Agung, Kamis (24/1). Namun, sampai Kamis malam, satu orang di antaranya, Alexander belum kembali dan sempat dilaporkan hilang ke Mapolsektif Rendang, Karangasem.

Dalam pencarian yang dilakukan tim SAR sejak pagi,  akhirnya Alexander ditemukan  selamat di lereng Gunung Agung sekitar 1,5 km di bawah kawah puncak. Namun, dia ditemukan kelelahan akibat menghadapi cuaca dingin di Gunung Agung.

Kini, wisatawan selain melihat daya tarik dan keindahan pura terbesar di Bali itu, juga bisa menikmati objek di sekitarnya, seperti Taman Bunga Eidelweis di di Banjar Temukus, di lereng barat Gunung Agung.

Humas Manajemen Pengelola Badan Pengelola Objek Daya Tarik Wisata Besakih, IGB Karyawan, belum lama ini mengatakan, Januari ini, kunjungan lebih dari 300 orang. Pada musim sepi, per bulan, kunjungan wisman sehari 250 sampai 300 orang. Sementara wisatawan domestik lebih sedikit, rata-rata 50 orang sehari. “Wisman paling banyak atau didominasi asal Prancis,” katanya.

Sementara terkait, adanya empat wisman asal Eropa yang mendaki Gunung Agung, dari informasi yang diperolehnya, melalui jalur Pura Pengubengan, mendaki ke atas. Diperkirakan mereka mendaki berempat secara diam-diam. Setelah di atas, mereka terpisah, dan akhirnya satu orang Alexander tersesat.

Tim pencarian dan pertolongan atau search  and rescue (SAR), dibantu berbagai unsur dan masyarakat, berbondong-bondong turun ke Temukus, Besakih, Karangasem, guna melakukan pencarian.  Kantor SAR Denpasar , sebelumnya,  menerima laporan dari Kapolsek Rendang Kompol Merta, tentang pihaknya di Mapolsek Rendang, menerima laporan dari turis pendaki itu, tentang satu rekannya belum kembali.

Tim Rescue Pos SAR Karangasem, terjun dengan tujuh orang dan dibantu tim dari berbagai unsur lainnya. Sementara, empat Wisman yang nekat mendaki dalam kondisi cuaca buruk, angin kencang, terkadang disertai hujan dan Gunung Agung diselimuti kabut dan awan itu,  Alvis asal Prancis, Sergey  dan Jhon warga Ukraina, serta Aleksander (28) asal Rusia yang sebelumnya menginap di Ubud. Namun, Aleksander, akhirnya sampai malam belum kembali, dan sempat dilaporkan hilang ke Mapolsek Rendang, oleh rekannya Kamis malam lalu.

Sebenarnya, mendaki ke Gunung Agung masih dilarang, terutama mendekati radius 4 km dari kawah puncak. Sebab, status Gunung Agung masih siaga dan dilarang melakukan kegiatan apapun pada radius 4 km dari kawah puncak. Sementara, dalam beberapa hari belakangan ini, sering terjadi erupsi, meski tak dahsyat, tetapi bau belereng menyengat, bahkan dua hari lalu, gunung tertinggi di Bali itu  erupsi menyebabkan hujan abu dan pasir halus di wilayah timur gunung, seperti Desa Datah dan sekitarnya.

Sebelum Gunung Agung bergejolak  September 2017 dan erupsi, sebenarnya ada dua jalur pendakian ke puncak, yakni Desa Besakih, dan dari Pura Pasar Agung Sebudi. Saat itu, pendaki terutama dari kalangan wisman cukup ramai. Sementara di kedua jalur pendakian itu, juga dikelola kelompok pramuwisata lokal pendakian. Namun, setelah terjadi gejolak Gunung Agung, pendakian ke puncak di larang. Rupanya, saking penasaran dan ingin melihat kondisi, serta situasi dan ingin menikmati keindahan gunung yang terakhir meletus dahsyat pada 1963 atau 55 tahun silam itu, larangan kerap diterobos wisman. Tahun lalu, pernah ada seorang turis asal Eropa yang berprofesi sebagai pilot di negaranya, bahkan nekat mendaki dan kemudian turun mendarat dengan selamat di Desa Besakih, setelah terjun dengan cara terbang layang dari puncak Gunung Agung. (bud)