Rupiah masih Berpeluang Menguat di Tahun Politik

Denpasar (Bisnis Bali) – Sepanjang perhelatan pilpres berlangsung aman dan Bank Indonesia (BI) tak menaikkan lagi suku bunga acuan dari posisi 6 persen, menurut pengamat ekonomi dan perbankan IB Kade Perdana, penguatan nilai tukar rupiah masih berpeluang. Itu sekaligus akan mengurangi kalangan pengusaha atau investor untuk melakukan tindakan wait and see.

“Potensi penguatan rupiah masih terbuka atau kembali menguat terhadap dolar AS dalam kisaran Rp13.000 sampai Rp 14.000 per dolar AS,” tutur Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Fiskal dan Moneter, Minggu (26/1) kemarin.

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, lanjutnya, kemudian juga akan membuat inflasi terkendali dengan baik dalam kisaran 3,5 persen nantinya. Bercermin dari itu, pergerakan aksi korporasi, baik yang dilakukan para pembisnis maupun para bankir akan membuat aktivitas perekonomian berjalan normal dan cenderung bergerak meningkat.

Jelas Kade Perdana, kondisi seperti itu akan memberikan ruang gerak yang kondusif bagi perbankan memperbaiki kinerjanya dalam menyalurkan kredit pada tahun politik, apalagi terjadi peningkatan penyaluran kredit dalam periode 2018 lalu. Katanya, September 2018 lalu menurut data BI penyaluran kredit mencapai 12,4 persen atau meningkat naik menjadi 13,1 persen pada akhir Oktober pada periode yang sama.

“Dengan kondisi seperti itu para bankir akan berusaha menyalurkan kredit  menjadi lebih tinggi pada  2019.  Pertumbuhan kredit bisa diraih, bahkan bisa diatas kisaran 15 persen,” ujarnya.

Sambungnya, dengan sendirinya tingkat NPL bisa menurun dalam kisaran 2-2,5 persen. Sampai dengan posisi akhir triwulan III/2018, NPL perbankan telah menyentuh 2,66 persen. Harapannya, kondisi perekonomian yang berkembang kondusif dengan dukungan kinerja perbankan yang lebih baik, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai kisaran 5,5-6 persen pada 2019. (man)