Sistem Organik Budi Daya Sawi Hijau Lebih Menguntungkan

Tabanan (Bisnis Bali) – Sawi hijau menjadi salah satu komoditas hortikultura yang sangat dibutuhkan untuk konsumsi. Daerah Baturiti, Kabupaten Tabanan menjadi sentra penghasil sawi hijau di pulau Bali. Selama ini budidaya sawi hijau dilakukan dengan cara konvensional, namun sejumlah petani di Banjar Munduk Andong, Desa Baturiti, Kabupaten Tabanan, mulai beralih ke sistem pertanian sehat dan ternyata keuntungan  yang diperoleh lebih besar.

I Made Sandi, mulai meninggalkan sistem pertanian konvensional dan beralih ke pertanian sehat (organik) sejak 2014. “Untuk budidaya saya sama sekali tidak membeli pupuk. Saya membuat pupuk sendiri dari apa yang dianggap sampah selama ini, dari buah dan sayur yang sudah busuk tidak dipakai orang kemudian saya fermentasikan,” tuturnya kepada Bisnis Bali, Minggu (20/1) di Baturiti.

Untuk proses budidaya hampir sama dengan sistem konvensional, perbedaannya hanya pada pupuk yang digunakan. “Sebelum mulai budidaya kita lakukan pengolahan tanah, seperti penggemburan tanah dan membuat bedengan. Selain itu bersihkan lahan dari rumput atau gulma yang mengganggu, gulma ini jangan di bakar, tapi tanam agar menjadi pupuk,” paparnya.

Setelah melakukan pengolahan tanah, semai benih. “Bibit per saset harga maksimal Rp20 ribu, untuk satu are dan menghasilkan sekitar 250-300 kg sayur,” tukasnya. Setelah satu Minggu disemai kemudian buat bulatan tanah yang dicampur dengan pupuk kandang diamkan seminggu lalu bisa ditanam ke lahan. Sebelum tanam pastikan lahan tanam sudah siap, kondisi tanah gembur dan subur. Jarak tanam 20 cm untuk menghindari gulma. Kalau jarak tanam jarang maka gulma akan tumbuh dan berperang dengan tanaman mencari nutrisi.

“Kalau saya pakai mulsa karena petani mingguan, tidak bisa setiap saat memperhatikan perkembangan tanaman. Dengan mulsa dapat mencegah tumbuhnya gulma,” tandasnya.

Selain memperhatikan jarak tanam, perlu dibuat bedengan 90 cm, dengan  got 40 cm. Seminggu setelah ditanam berikan pupuk organik dengan cara dicor. “Seminggu kemudian perhatikan kondisi tanaman bila pertumbuhan kurang bagus, semprot dengan pupuk organik. Jadi pupuk yang saya buat sudah komplit pupuk, pestisida dan fungisida alami jadi tidak ada hama yang menggangu” ucapnya.

Dikatakan, penyiraman tidak terlalu diperlukan, pemupukan seminggu sekali dengan pengecoran sudah otomatis berarti penyiraman. “Dengan sistem organik ini sekitar 21-28 hari sudah bisa dipanen. Lebih cepat dari  budidaya dengan sistem organik yang minimal panen setelah 30 hari,” ungkapnya. Dari 1 are ( 10x10m ) lahan bisa dihasilkan 250-300 kg sayur.

Harga jual sawi organik di pasaran mencapai Rp 15 ribu per kilogram. “Saya karena sudah ada kerjasama jadi sayur diambil dengan harga Rp 4.000/kg. Dengan harga 1000 rupiah saja sebenarnya sudah dapat untung, karena saya tidak membeli pupuk,” tandasnya. Jadi dengan 30 hari sudah diperoleh hasil Rp 1 juta per are kalau 10 are sudah mendapat Rp10 juta. (pur)